Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian

Loading...

903. Transformasi Nilai-Nilai Ajaran Islam Dalam Ayat-Ayat Cinta Karya

ABSTRAK Apabila disimak dari segi amanat yang terdapat dalam Ayat-Ayat Cinta melalui tokohmFahri, terdapat pesan tentang nilai-nilai ajaran Islam. Dalam novel Ayat Ayat Cinta diceritakan tentang keyakinan terhadap adanya Allah (ketauhidan), keyakinan terhadap adanya Rasuul, keyakinan terhadap adanya Kitab, keyakinan terhadap adanya Akhirat, dan keyakinan terhadap adanya Takdir Allah. Selain itu, disinggung pula tentang perlunya mengucapkan dua kalimah syahadat (syahadatain), tentang salat, tentang perlunya mengeluarkan zakat, tentang pelaksanaan puasa di bulan Ramadan, serta tentang naik haji. Nilai-nilai ajaran Islam yang terkandung dalam Ayat Ayat Cinta tersebut sejalan dengan konsep ajaran Islam yang terangkum dalam rukun Iman dan rukun Islam. Rukun Iman itu ada 6, yaitu (1) mengakui adanya Allah (2) mengakui adanya malaikat Allah (3) mengakui adanya kitabkitab Allah (4) mengakui adanya rasul Allah (5) mengakui adanya hari kiamat (akhirat) (6) mengakui adanya takdir Allah .Adapun yang dimaksud rukun Islam adalah kewajiban keagamaan, yaitu aturan-aturan perihal tindakan yang harus dijalankan bagi setiap pemeluk agama Islam yang bersifat mengikat bagi pemeluk agama yang bersangkutan. Yang termasuk rukun Islam, yaitu (1) mengucapkan syahadatain, (2) mengerjakan salat fardu, (3) mengeluarkan zakat, (4) berpuasa Ramadan, (5) menunaikan ibadah haji. Rukun Iman dan rukun Islam tersebut merupakan konsep ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Hadis. Nilai ajaran Islam tersebut tercermin dalam novel Ayat Ayat Cinta. Dalam hal ini, Ayat Ayat Cinta mencermikan nilai-nilai ajaran Islam yang hipogramnya adalah teks Alquran dan Hadis Nabi karena adanya resepsi pengarang terhadap teks Alquran dan Hadis Nabi tersebut. Novel Ayat Ayat Cinta merupakan transformasi dari nilai-nilai ajaran Islam yang ada di dalam Alquran dan Hadis sebagai resepsi aktif Habiburrahman El-Shirazy terhadap pembacaan teks-teks yang ada di dalamnya. Kemudian, dia mengintegrasikan hasil bacaannya tersebut ke dalam karyanya. File Selengkapnya.....

902. Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Al-Qur'an

ABSTRAK Akhlak yang mulia merupakan cermin kepribadian seseorang, selain itu akhlak yang mulia akan mampu mengantarkan seseorang kepada martabat yang tinggi. Penilian baik dan buruknya seseorang sangat ditentukan melalui akhlaknya. Akhir-akhir ini akhlak yang baik merupakan hal yang .mahal dan sulit dicari.. Minimnya pemahaman akan nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam Al-Qur.an akan semakin memperparah kondisi kepribadian seseorang, bahkan hidup ini seakan-akan terasa kurang bermakna. Untuk membentuk pribadi yang mulia, hendaknya penanaman akhlak terhadap anak digalakkan sejak dini, karena pembentukannya akan lebih mudah dibanding setelah anak tersebut menginjak dewasa. surat al-Hujurat ayat 11-13 membahas tentang menciptakan suasana yang harmonis di antara lingkungan masyarakat serta menghindari terjadinya permusuhan. Sehingga akan tercipta pribadi yang santun sesuai dengan tuntunan al-Qur.an. Untuk memperoleh data yang representatif dalam pembahasan skripsi ini, digunakan metode penelitian kepustakaan (library reseach) dengan cara mencari, mengumpulkan, membaca, dan menganalisa buku-buku, ada relevansinya dengan masalah penelitian. Kemudian diolah sesuai dengan kemampuan penulis. Adapun jenis penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah kualitatif. Adapun metode pembahasan tafsir dalam skripsi ini adalah metode tahlili yaitu suatu metode tafsir yang digunakan oleh para mufassir dalam menjelaskan kandungan ayat al-Qur.an dari berbagai seginya dengan memperhatikan ayat-ayat al-Qur.an sebagaimana yang tercantum dalam mushaf. Dimulai dengan menyebutkan ayat-ayat yang akan ditafsirkan, menjelaskan ma.na lafazh yang terdapat di dalamnya, menjelaskan munasabah ayat dan menjelaskan isi kandungan ayat. Setelah penulis memperoleh rujukan yang relevan kemudian datamtersebut disusun, dianalisa, sehingga memperoleh kesimpulan. Nilai pendidikan akhlak yang terdapat surat al-Hujurat ayat 11-13 meliputi: Nilai pendidikan menjunjung kehormatan kaum Muslimin, taubat, positif thinking, ta.aruf dan pendidikan egaliter (persamaan derajat). Adapun aplikasinya dalam pendidikan Islam, saling menghormati dapat dilakukan dengan keteladanan, nasihat, kisah, metode peringatan dan ancaman (tarhib). Pendidikan taubat dapat dilakukan dengan pembiasaan dan pemberian nasihat (ceramah). Pendidikan positif thinking dapat dilakukan dengan metode keteladanan, metode nasihat dan metode pembiasaan. Pendidikan ta.aruf dapat dilakukan dengan nasihat, kisah dan pembiasaan. Pendidikan egaliter dapat dilakukan dengan ceramah, nasihat, keteladanan dan metode kisah. File Selengkapnya.....

901. Metode Bercerita Sebagai Penanaman Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Pra-Sekolah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama. Dalam jiwa manusia ada satu perasaan yang mengakui adanya Dzat Yang Maha Kuasa, tempat berlindung dan memohon pertolongan-Nya. Manusia akan merasa tenang dan tentram hatinya kalau dapat mendekat dan mengabdi kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Agama mengajarkan manusia agar selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Itulah sebabnya manusia memerlukan pendidikan agama untuk menuntun ibadahnya. Di sisi lain manusia diberi kemampuan untuk membina anak didiknya agar menjadi orang baik dan mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat serta akhlak yang terpuji. Perkembangan agama sejak usia dini anak-anak memerlukan dorongan dan rangsangan sebagaimana pohon memerlukan air dan pupuk. Minat dan cita-cita anak perlu ditumbuh kembangkan ke arah yang baik dan terpuji melalui pendidikan. Cara memberikan pendidikan atau pengajaran agama haruslah sesuai dengan perkembangan psikologis anak didik. Oleh karena itu dibutuhkan pendidik yang memiliki jiwa pendidik dan agama, supaya segala gerak-geriknya menjadi teladan dan cermin bagi murid-muridnya. Tingkat usia kanak-kanak merupakan kesempatan pertama yang sangat baik bagi pendidik untuk membina kepribadian anak yang akan menentukan masa depan mereka. Penanaman nila-nilai agama sebaikya dilaksanakan kepada anak pada usia pra-sekolah, sebelum mereka dapat berpikir secara logis dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum dapat membedakan hal yang baik dan buruk. Agar semenjak kecil sudah terbiasa dengan nilai-nilai kebaikan dan dapat mengenal Tuhannya yaitu Allah SWT. Anak didik pada usia Taman Kanak-kanak masih sangat terbatas kemampuannya. Pada umur ini kepribadiannya mulai terbentuk dan ia sangat peka terhadap tindakan-tindakan orang di sekelilingnya. Pendidikan agama diperlukan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik misalnya membaca do.a tiap kali memulai pekerjaan seperti do.a mau makan dan minum, do.a naik kendaraan, do.a mau pulang, dan lain-lain yang biasa di terapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Di samping itu memperkenalkan Tuhan yang Maha Esa secara sederhana, sesuai dengan kemampuannya. 2 Metode yang digunakan dalam menyampaikan pendidikan agama pada anak tentu berbeda dengan metode yang dilaksanakan untuk orang dewasa. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Zakiyah Daradjat sebagai berikut : .Anakanak bukanlah orang dewasa yang kecil, kalau kita ingin agar agama mempunyai arti bagi mereka hendaklah disampaikan dengan cara-cara lebih konkrit dengan bahasa yang dipahaminya dan tidak bersifat dogmatic saja. File Selengkapnya.....

900. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menangani Kenakalan Siswa

ABSTRAK Pola pergaulan dan pengaruh tayangan televisi tidak baik yang terjadi pada anak dapat menjadi alasan mengapa anak-anak usia sekolah seringkali melakukan kenakalan yang dilakukan kepada teman-temannya. Seringkali kenakalan tersebut dilakukan tanpa sengaja maupun disengaja. Kondisi inilah yang perlu mendapat perhatian serius oleh pendidik di sekolah khususnya guru pendidikan agama Islam, agar kenakalan-kenakalan tersebut tidak menjadi kebiasaan bagi anak didik tersebut. Berdasarkan kenyataan tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimana bentuk-bentuk kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta?. Bagaimana upaya guru pendidikan agama Islam dalam menangani kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta?. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta dan upaya guru pendidikan agama Islam dalam menangani kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), dilaksanakan di SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta, pada bulan Mei 2010. Dalam penelitian tersebut melibatkan guru pendidikan agama Islam kelas III dan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Untuk mendapatkan data lapangan dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun analisis datanya bersifat deskriptif kualitatif, yaitu: pengumpulan data sekaligus reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dapat disimpulkan, bahwa bentuk-bentuk kenakalan siswa adalah: (1) bentuk-bentuk kenakalan siswa yang dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja yang masih dalam taraf pelanggaran ringan, contoh: memasukkan cabe ke dalam makanan serabi. (2) bentuk-bentuk kenakalan siswa yang dilakukan dengan sengaja yang masuk dalam taraf pelanggaran berat, contoh: minta uang terhadap adik kelas secara paksa sambil mengancam. Adapun upaya guru pendidikan agama Islam dalam menangani kenakalan siswa adalah: (1) Upaya pencegahan kenakalan siswa (upaya preventif), yaitu: menghilangkan gejala-gejala, menceritakan tokoh idola, menerapkan konsekuensi atau peraturan dengan prosedur yang jelas, dan mengisi waktu kosong dengan baik. (2) Upaya penanganan kenakalan siswa (upaya kuratif), yaitu: membaca Istigfar, menyikapi penyebab dan jenis kenakalan, menasihati, memberi peringatan dan pemahaman, isyarat nonverbal, membetulkan kenakalan dan memuji siswa lain yang tidak melakukan kenakalan, dan konsultasi lewat telpon dan pemanggilan orang tua. File Selengkapnya.....

899. Efektifitas Metode Demonstrasi Pada Pembelajaran Bidang Studi Fiqih

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keefektifan metode demonstrasi pada bidang studi Fiqih di MTs. Soebono Mantofani Jombang- Ciputat, dengan metode deskriptif analisis terhadap data yang penulis peroleh dari lapangan. Untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, penulis merumuskan pertanyaan penelitian yang terperinci dan bersifat operasional. Fiqih yang dimaksud adalah pengertian fiqih yang terdapat dalam GBPP MTs. yaitu bimbingan untuk mengetahui ketentuan-ketentuan syariat Islam atau usaha bimbingan terhadap anak didik agar memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam. Sedangkan metode demonstrasi adalah cara pembelajaran dengan memperagakan, mempertunjukkan atau memperlihatkan sesuatu di kelas atau di luar kelas baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan angket yang disebarkan kepada siswa dengan cara random sampling/secara acak. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas VII MTs. Soebono Mantofani tahun ajaran 2007-2008 yang berjumlah 135 siswa untuk memudahkan penelitian maka penulis bulatkan menjadi 60 siswa (sebagai sampel penelitian). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode demonstrasi efektif digunakan pada bidang studi fiqih di MTs. Soebono Mantofani. Keefektifan metode ini disebabkan mamberi kemudahan pada siswa dalam memahami pelajaran.File Selengkapnya.....

898. Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Hadist Perintah Shalat

ABSTRAKSI Hadits riwayat Imam Abu Daud adalah hadits yang akan penulis teliti. Seperti halnya telah penulis tuliskan diatas. Karena hadist tersebut penulis anggap hadits yang bermuatan pendidikan. Terutama pendidikan terhadap anak. Dalam penelitian tersebut penulis menggunakan metode penelitian;1. Jenis penelitian, yakni penelitian kepustakaan (library research) yaitu mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam materi yang dapat diperoleh dari perpustakaan.2. Sifat penelitian, yakni deskriptif-analisis yaitu pemaparan apa adanya terdapat apa yang dimaksud dalam teks dengan cara memfrasekan dengan bahasa peneliti. Sedangkan pengolahan data 1. Adapun nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung didalamnya ialah; a. Nilai Pendidikan Keimanan. b. Nilai Pendidikan Ibadah. c. Nilai Pendidikan Akhlaq. d. Nilai Pendidikan Seks Bagi Anak 2. Sedangkan implikasinya ialah; a. Nilai-nilai pendidikan Islam dapat dijadikan alat pengubah anak didik melalui proses pendidikan baik, dapat digunakan sebagai pedoman (patokan) dalam pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya, diaplikasikam guna membentuk manusia yang bertaqwa melalui ibadah mahdloh maupum ghairu mahdlohnya dan dapat diterapkan atau dilibatkan dalam pengasuhan anak melalui proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. b. Pendidikan Keimanan, Pendidikan Ibadah, Pendidilkan Akhlaq dan Pendidikan Seks Bagi Anak. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan atau dilibatkan dalam setiap lini pendidikan anak dalam Islam. File Selengkapnya.....

897. Konstruksi Filsafat Pendidikan Muhammadiyah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Muhammadiyah kini telah berkembang dengan ribuan amal usahanya yang banyak menyentuh lapisan masyarakat. Berdasarkan data tahun 2005 yang dimuat dalam Profil Muhammadiyah 2005, organisasi ini tercatat telah memiliki amal usaha yaitu: 1132 Sekolah Dasar (SD), 1769 Madrasah Ibtidaiyah/Diniyah (MI/MD), 1184 Sekolah Menengah Pertama (SMP), 534 Madrasah Tsanawiyah (MTs), 511 Sekolah Menengah Atas (SMA), 263 Madrasah Aliyah (MA), 172 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), 67 Pondok pesantren, 55 Akademi, 4 Politeknik, 70 Sekolah Tinggi, 36 Universitas, 345 amal usaha kesehatan, 330 amal usaha sosial, 19 Bank Perkreditan Rakyat (BPR), 190 Baitul Tanwil Muhammadiyah (BTM), dan 808 Koperasi (Warga) Muhammadiyah (Tim Penyusun dan Penerbitan Profil Muhammadiyah 2005, 2005: viii). Di antara sekian ribu amal usaha tersebut, bidang pendidikan menjadi garapan yang tak pernah usang dari awal berdiri hingga kini. Gebrakan K.H. Ahmad Dahlan dalam sistem pendidikan Indonesia yang pada masa itu masih dikotomik menjadi icon tersendiri bagi Muhammadiyah sebagai perintis sistem pendidikan integralistik. Gagasan K.H. Ahmad Dahlan tersebut menjadi jawaban permasalahan pendidikan atas dua sistem pendidikan pada waktu itu yang sama-sama ekstrim. Sistem yang satu hanya menekankan pada sisi religiusitas sedangkan sistem yang lainnya hanya menekankan pada sisi duniawi (Khozin, 2005: 4). Kedua sistem ini hanya mampu melahirkan manusia “cacat” yang sempit dalam religiusitasnya atau manusia-manusia sekuler yang tak mengenal agama. K.H. Ahmad Dahlan menawarkan konsep baru yang bertolak pada pemahaman hakikat manusia secara utuh. Pendidikan seyogyanya melahirkan manusia-manusia tangguh yang siap menghadapi problema masa depan. Untuk itulah, K.H. Ahmad Dahlan membuat alternatif baru yaitu dengan memadukan sistem pendidikan pribumi atau pesantren dengan sistem pendidikan kolonial yang sesuai dengan ajaran Islam (Khozin, 2005: 4). Hasilnya, terbentuk sistem pembelajaran yang tidak hanya mencekoki peserta didik dengan satu cabang ilmu melainkan mengombinasikan ilmu umum dan ilmu agama. Dalam usia menjelang satu abad, Muhammadiyah sekarang telah berkembang pesat dengan ribuan amal usaha, termasuk di bidang pendidikan. Secara fisik dan kuantitas, Muhammadiyah bisa dikatakan jauh melampaui masa-masa awal berdirinya. Namun demikian, tak berarti secara kualitas pendidikan Muhammadiyah juga berlari seiring perkembangan secara kuantitas. Kini, seringkali pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah kembali dipertanyakan. Masihkah lembaga pendidikan Muhammadiyah jaya seperti dulu sebagai sekolahsekolah yang mempunyai daya saing? Apabila ditinjau lebih mendalam, ada stagnansi dalam tubuh Muhammadiyah khususnya ghirah ber-Muhammadiyah dalam kurun 1970-an hingga awal abad XXI (Khozin, 2005: 7). Berbagai kritik juga muncul, melihat pendidikan Muhammadiyah yang belum mampu mencerminkan nilai-nilai Islam dalam perilaku warga sekolahnya. Selain itu, berbagai indikasi masih kurangnya kualitas pendidikan Muhammadiyah seperti lemahnya daya saing dengan sekolah-sekolah lain hingga dalam hal pembiayaan yang tidak lagi berpihak pada kaum ekonomi lemah menjadikan kaburnya identitas pendidikan Muhammadiyah (http://eprints.ums.ac.id). Berbagai permasalahan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan perombakan kurikulum, peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan, ataupun dengan pemberian subsidi pada ranah komponen pendidikannya. Untuk itu, perlu keberanian untuk mencari akar permasalahan yang sebenarnya, yaitu belum tersedianya filosofi pendidikan dalam Muhammadiyah (http://eprints.ums.ac.id). Ironis, bila dalam mendidik seseorang tanpa dibekali terlebih dahulu dengan teori-teori yang bersifat abstrak, sebagai landasan tentang tujuan yang ingin dicapai. Bagian yang abstrak ini pemaknaannya banyak yang perlu diambil dari bidang filsafat. (Imam Barnadib, 2002: 5). Dengan demikian, untuk melakukan perubahan pendidikan, langkah awal yang harus dilakukan adalah merumuskan konsep dasar filosofis pendidikan karena pembaharuan pendidikan akan terarah dengan mantap apabila didasarkan pada filsafat dan teori pendidikan yang mantap pula. (Mukaddimah [perh.],1999: 58)
File Selengkapnya.....