Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian
Showing posts with label Pendidikan Agama Isalam (PAI). Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Agama Isalam (PAI). Show all posts
903. Transformasi Nilai-Nilai Ajaran Islam Dalam Ayat-Ayat Cinta Karya
ABSTRAK
Apabila disimak dari segi amanat yang terdapat dalam Ayat-Ayat Cinta melalui tokohmFahri, terdapat pesan tentang nilai-nilai ajaran Islam. Dalam novel Ayat Ayat Cinta diceritakan tentang keyakinan terhadap adanya Allah (ketauhidan), keyakinan terhadap adanya Rasuul, keyakinan terhadap adanya Kitab, keyakinan terhadap adanya Akhirat, dan keyakinan terhadap adanya Takdir Allah. Selain itu, disinggung pula tentang perlunya mengucapkan dua kalimah syahadat (syahadatain), tentang salat, tentang perlunya mengeluarkan zakat, tentang pelaksanaan puasa di bulan Ramadan, serta tentang naik haji.
Nilai-nilai ajaran Islam yang terkandung dalam Ayat Ayat Cinta tersebut sejalan dengan konsep ajaran Islam yang terangkum dalam rukun Iman dan rukun Islam. Rukun Iman itu ada 6, yaitu (1) mengakui adanya Allah (2) mengakui adanya malaikat Allah (3) mengakui adanya kitabkitab Allah (4) mengakui adanya rasul Allah (5) mengakui adanya hari kiamat (akhirat) (6) mengakui adanya takdir Allah .Adapun yang dimaksud rukun Islam adalah kewajiban keagamaan, yaitu aturan-aturan perihal tindakan yang harus dijalankan bagi setiap pemeluk agama Islam yang bersifat mengikat bagi pemeluk agama yang bersangkutan. Yang termasuk rukun Islam, yaitu (1) mengucapkan syahadatain, (2) mengerjakan salat fardu, (3) mengeluarkan zakat, (4) berpuasa Ramadan, (5) menunaikan ibadah haji.
Rukun Iman dan rukun Islam tersebut merupakan konsep ajaran Islam yang bersumber dari Alquran dan Hadis. Nilai ajaran Islam tersebut tercermin dalam novel Ayat Ayat Cinta. Dalam hal ini, Ayat Ayat Cinta mencermikan nilai-nilai ajaran Islam yang hipogramnya adalah teks Alquran dan Hadis Nabi karena adanya resepsi pengarang terhadap teks Alquran dan Hadis Nabi tersebut. Novel Ayat Ayat Cinta merupakan transformasi dari nilai-nilai ajaran Islam yang ada di dalam Alquran dan Hadis sebagai resepsi aktif Habiburrahman El-Shirazy terhadap pembacaan teks-teks yang ada di dalamnya. Kemudian, dia mengintegrasikan hasil bacaannya tersebut ke dalam karyanya.
902. Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Al-Qur'an
ABSTRAK
Akhlak yang mulia merupakan cermin kepribadian seseorang, selain itu akhlak yang mulia akan mampu mengantarkan seseorang kepada martabat yang tinggi. Penilian baik dan buruknya seseorang sangat ditentukan melalui akhlaknya. Akhir-akhir ini akhlak yang baik merupakan hal yang .mahal dan sulit dicari.. Minimnya pemahaman akan nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam Al-Qur.an akan semakin memperparah kondisi kepribadian seseorang, bahkan hidup ini seakan-akan terasa kurang bermakna. Untuk membentuk pribadi yang mulia, hendaknya penanaman akhlak terhadap anak digalakkan sejak dini, karena pembentukannya akan lebih mudah dibanding setelah anak tersebut menginjak dewasa. surat al-Hujurat ayat 11-13 membahas tentang menciptakan suasana yang harmonis di antara lingkungan masyarakat serta menghindari terjadinya permusuhan. Sehingga akan tercipta pribadi yang santun sesuai dengan tuntunan al-Qur.an. Untuk memperoleh data yang representatif dalam pembahasan skripsi ini, digunakan metode penelitian kepustakaan (library reseach) dengan cara mencari, mengumpulkan, membaca, dan menganalisa buku-buku, ada relevansinya dengan masalah penelitian. Kemudian diolah sesuai dengan kemampuan penulis. Adapun
jenis penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah kualitatif. Adapun metode pembahasan tafsir dalam skripsi ini adalah metode tahlili yaitu suatu metode tafsir yang digunakan oleh para mufassir dalam menjelaskan kandungan ayat al-Qur.an dari berbagai seginya dengan memperhatikan ayat-ayat al-Qur.an sebagaimana yang tercantum dalam mushaf. Dimulai dengan menyebutkan ayat-ayat yang akan ditafsirkan, menjelaskan ma.na lafazh yang terdapat di dalamnya, menjelaskan munasabah ayat dan menjelaskan isi kandungan ayat. Setelah penulis memperoleh rujukan yang relevan kemudian datamtersebut disusun, dianalisa, sehingga memperoleh kesimpulan. Nilai pendidikan akhlak yang terdapat surat al-Hujurat ayat 11-13 meliputi: Nilai pendidikan menjunjung kehormatan kaum Muslimin, taubat, positif thinking, ta.aruf dan pendidikan egaliter (persamaan derajat). Adapun aplikasinya dalam pendidikan Islam, saling menghormati dapat dilakukan dengan keteladanan, nasihat, kisah, metode peringatan dan ancaman (tarhib). Pendidikan taubat dapat dilakukan dengan pembiasaan dan pemberian nasihat (ceramah). Pendidikan positif thinking dapat dilakukan dengan metode keteladanan, metode nasihat dan metode pembiasaan. Pendidikan ta.aruf dapat dilakukan dengan nasihat, kisah dan pembiasaan. Pendidikan egaliter dapat dilakukan dengan ceramah, nasihat, keteladanan dan metode kisah.
901. Metode Bercerita Sebagai Penanaman Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Pra-Sekolah
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap manusia membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama. Dalam jiwa manusia ada satu perasaan yang mengakui adanya Dzat Yang Maha Kuasa, tempat berlindung dan memohon pertolongan-Nya. Manusia akan merasa tenang dan tentram hatinya kalau dapat mendekat dan mengabdi kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Agama mengajarkan manusia agar selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Itulah sebabnya manusia memerlukan pendidikan agama untuk menuntun ibadahnya. Di sisi lain manusia diberi kemampuan untuk membina anak didiknya agar menjadi orang baik dan mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat serta akhlak yang terpuji.
Perkembangan agama sejak usia dini anak-anak memerlukan dorongan dan rangsangan sebagaimana pohon memerlukan air dan pupuk. Minat dan cita-cita anak perlu ditumbuh kembangkan ke arah yang baik dan terpuji melalui pendidikan. Cara memberikan pendidikan atau pengajaran agama haruslah sesuai dengan perkembangan psikologis anak didik. Oleh karena itu dibutuhkan pendidik yang memiliki jiwa pendidik dan agama, supaya segala gerak-geriknya menjadi teladan dan cermin bagi murid-muridnya.
Tingkat usia kanak-kanak merupakan kesempatan pertama yang sangat baik bagi pendidik untuk membina kepribadian anak yang akan menentukan masa depan mereka. Penanaman nila-nilai agama sebaikya dilaksanakan kepada anak pada usia pra-sekolah, sebelum mereka dapat berpikir secara logis dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum dapat membedakan hal yang baik dan buruk. Agar semenjak kecil sudah terbiasa dengan nilai-nilai kebaikan dan dapat mengenal Tuhannya yaitu Allah SWT.
Anak didik pada usia Taman Kanak-kanak masih sangat terbatas kemampuannya. Pada umur ini kepribadiannya mulai terbentuk dan ia sangat peka terhadap tindakan-tindakan orang di sekelilingnya. Pendidikan agama diperlukan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik misalnya membaca do.a tiap kali memulai pekerjaan seperti do.a mau makan dan minum, do.a naik kendaraan, do.a mau pulang, dan lain-lain yang biasa di terapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Di samping itu memperkenalkan Tuhan yang Maha Esa secara sederhana, sesuai dengan kemampuannya. 2
Metode yang digunakan dalam menyampaikan pendidikan agama pada anak tentu berbeda dengan metode yang dilaksanakan untuk orang dewasa. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Zakiyah Daradjat sebagai berikut : .Anakanak bukanlah orang dewasa yang kecil, kalau kita ingin agar agama mempunyai arti bagi mereka hendaklah disampaikan dengan cara-cara lebih konkrit dengan bahasa yang dipahaminya dan tidak bersifat dogmatic saja.
900. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menangani Kenakalan Siswa
ABSTRAK
Pola pergaulan dan pengaruh tayangan televisi tidak baik yang terjadi pada anak dapat menjadi alasan mengapa anak-anak usia sekolah seringkali melakukan kenakalan yang dilakukan kepada teman-temannya. Seringkali kenakalan tersebut dilakukan tanpa sengaja maupun disengaja. Kondisi inilah yang perlu mendapat perhatian serius oleh pendidik di sekolah khususnya guru pendidikan agama Islam, agar kenakalan-kenakalan tersebut tidak menjadi kebiasaan bagi anak didik tersebut.
Berdasarkan kenyataan tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimana bentuk-bentuk kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta?. Bagaimana upaya guru pendidikan agama Islam dalam menangani kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta?.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta dan upaya guru pendidikan agama Islam dalam menangani kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), dilaksanakan di SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta, pada bulan Mei 2010. Dalam penelitian tersebut melibatkan guru pendidikan agama Islam kelas III dan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Untuk mendapatkan data lapangan dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun analisis datanya bersifat deskriptif kualitatif, yaitu: pengumpulan data sekaligus reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian dapat disimpulkan, bahwa bentuk-bentuk kenakalan siswa adalah: (1) bentuk-bentuk kenakalan siswa yang dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja yang masih dalam taraf pelanggaran ringan, contoh: memasukkan cabe ke dalam makanan serabi. (2) bentuk-bentuk kenakalan siswa yang dilakukan dengan sengaja yang masuk dalam taraf pelanggaran berat, contoh: minta uang terhadap adik kelas secara paksa sambil mengancam.
Adapun upaya guru pendidikan agama Islam dalam menangani kenakalan siswa adalah: (1) Upaya pencegahan kenakalan siswa (upaya preventif), yaitu: menghilangkan gejala-gejala, menceritakan tokoh idola, menerapkan konsekuensi atau peraturan dengan prosedur yang jelas, dan mengisi waktu kosong dengan baik. (2) Upaya penanganan kenakalan siswa (upaya kuratif), yaitu: membaca Istigfar, menyikapi penyebab dan jenis kenakalan, menasihati, memberi peringatan dan pemahaman, isyarat nonverbal, membetulkan kenakalan dan memuji siswa lain yang tidak melakukan kenakalan, dan konsultasi lewat telpon dan pemanggilan orang tua.
899. Efektifitas Metode Demonstrasi Pada Pembelajaran Bidang Studi Fiqih
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keefektifan metode demonstrasi pada bidang studi Fiqih di MTs. Soebono Mantofani Jombang- Ciputat, dengan metode deskriptif analisis terhadap data yang penulis peroleh dari lapangan. Untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, penulis merumuskan pertanyaan penelitian yang terperinci dan bersifat operasional.
Fiqih yang dimaksud adalah pengertian fiqih yang terdapat dalam GBPP MTs. yaitu bimbingan untuk mengetahui ketentuan-ketentuan syariat Islam atau usaha bimbingan terhadap anak didik agar memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam. Sedangkan metode demonstrasi adalah cara pembelajaran dengan memperagakan, mempertunjukkan atau memperlihatkan sesuatu di kelas atau di luar kelas baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan angket yang disebarkan kepada siswa dengan cara random sampling/secara acak. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas VII MTs. Soebono Mantofani tahun ajaran 2007-2008 yang berjumlah 135 siswa untuk memudahkan penelitian maka penulis bulatkan menjadi 60 siswa (sebagai sampel penelitian).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode demonstrasi efektif digunakan pada bidang studi fiqih di MTs. Soebono Mantofani. Keefektifan metode ini disebabkan mamberi kemudahan pada siswa dalam memahami pelajaran.
898. Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Hadist Perintah Shalat
ABSTRAKSI
Hadits riwayat Imam Abu Daud adalah hadits yang akan penulis teliti. Seperti halnya telah penulis tuliskan diatas. Karena hadist tersebut penulis anggap hadits yang bermuatan pendidikan. Terutama pendidikan terhadap anak. Dalam penelitian tersebut penulis menggunakan metode penelitian;1. Jenis penelitian, yakni penelitian kepustakaan (library research) yaitu mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam materi yang dapat diperoleh dari perpustakaan.2. Sifat penelitian, yakni deskriptif-analisis yaitu pemaparan apa adanya terdapat apa yang dimaksud dalam teks dengan cara memfrasekan dengan bahasa peneliti. Sedangkan pengolahan data 1. Adapun nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung didalamnya ialah; a. Nilai Pendidikan Keimanan. b. Nilai Pendidikan Ibadah. c. Nilai Pendidikan Akhlaq. d. Nilai Pendidikan Seks Bagi Anak 2. Sedangkan implikasinya ialah; a. Nilai-nilai pendidikan Islam dapat dijadikan alat pengubah anak didik melalui proses pendidikan baik, dapat digunakan sebagai pedoman (patokan) dalam pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya, diaplikasikam guna membentuk manusia yang bertaqwa melalui ibadah mahdloh maupum ghairu mahdlohnya dan dapat diterapkan atau dilibatkan dalam pengasuhan anak melalui proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. b. Pendidikan Keimanan, Pendidikan Ibadah, Pendidilkan Akhlaq dan Pendidikan Seks Bagi Anak. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan atau dilibatkan dalam setiap lini pendidikan anak dalam Islam.
897. Konstruksi Filsafat Pendidikan Muhammadiyah
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Muhammadiyah kini telah berkembang dengan ribuan amal usahanya yang banyak menyentuh lapisan masyarakat. Berdasarkan data tahun 2005 yang dimuat dalam Profil Muhammadiyah 2005, organisasi ini tercatat telah memiliki amal usaha yaitu: 1132 Sekolah Dasar (SD), 1769 Madrasah Ibtidaiyah/Diniyah (MI/MD), 1184 Sekolah Menengah Pertama (SMP), 534 Madrasah Tsanawiyah (MTs), 511 Sekolah Menengah Atas (SMA), 263 Madrasah Aliyah (MA), 172 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), 67 Pondok pesantren, 55 Akademi, 4 Politeknik, 70 Sekolah Tinggi, 36 Universitas, 345 amal usaha kesehatan, 330 amal usaha sosial, 19 Bank Perkreditan Rakyat (BPR), 190 Baitul Tanwil Muhammadiyah
(BTM), dan 808 Koperasi (Warga) Muhammadiyah (Tim Penyusun dan Penerbitan Profil Muhammadiyah 2005, 2005: viii). Di antara sekian ribu amal usaha tersebut, bidang pendidikan menjadi garapan yang tak pernah usang dari awal berdiri hingga kini. Gebrakan K.H. Ahmad Dahlan dalam sistem pendidikan Indonesia yang pada masa itu masih dikotomik menjadi icon tersendiri bagi Muhammadiyah sebagai perintis sistem pendidikan integralistik. Gagasan K.H. Ahmad Dahlan tersebut menjadi jawaban permasalahan pendidikan
atas dua sistem pendidikan pada waktu itu yang sama-sama ekstrim. Sistem yang satu hanya menekankan pada sisi religiusitas sedangkan sistem yang lainnya hanya menekankan pada sisi duniawi (Khozin, 2005: 4). Kedua sistem ini hanya mampu melahirkan manusia “cacat” yang sempit dalam religiusitasnya atau manusia-manusia sekuler yang tak mengenal agama. K.H. Ahmad Dahlan menawarkan konsep baru yang bertolak pada pemahaman hakikat manusia secara utuh. Pendidikan seyogyanya melahirkan manusia-manusia tangguh yang siap menghadapi problema masa depan. Untuk itulah, K.H. Ahmad Dahlan membuat alternatif baru yaitu dengan memadukan sistem pendidikan pribumi atau pesantren dengan sistem pendidikan kolonial yang sesuai dengan ajaran Islam (Khozin, 2005: 4). Hasilnya, terbentuk sistem pembelajaran yang tidak hanya mencekoki peserta didik dengan satu cabang ilmu melainkan mengombinasikan ilmu umum dan ilmu agama.
Dalam usia menjelang satu abad, Muhammadiyah sekarang telah berkembang pesat dengan ribuan amal usaha, termasuk di bidang pendidikan. Secara fisik dan kuantitas, Muhammadiyah bisa dikatakan jauh melampaui masa-masa awal berdirinya. Namun demikian, tak berarti secara kualitas pendidikan Muhammadiyah juga berlari seiring perkembangan secara kuantitas. Kini, seringkali pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah kembali dipertanyakan. Masihkah lembaga pendidikan Muhammadiyah jaya seperti dulu sebagai sekolahsekolah yang mempunyai daya saing?
Apabila ditinjau lebih mendalam, ada stagnansi dalam tubuh Muhammadiyah khususnya ghirah ber-Muhammadiyah dalam kurun 1970-an hingga awal abad XXI (Khozin, 2005: 7). Berbagai kritik juga muncul, melihat pendidikan Muhammadiyah yang belum mampu mencerminkan nilai-nilai Islam dalam perilaku warga sekolahnya. Selain itu, berbagai indikasi masih kurangnya kualitas pendidikan Muhammadiyah seperti lemahnya daya saing dengan sekolah-sekolah lain hingga dalam hal pembiayaan yang tidak lagi berpihak pada kaum ekonomi lemah menjadikan kaburnya identitas pendidikan Muhammadiyah (http://eprints.ums.ac.id).
Berbagai permasalahan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan perombakan kurikulum, peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan, ataupun dengan pemberian subsidi pada ranah komponen pendidikannya. Untuk itu, perlu keberanian untuk mencari akar permasalahan yang sebenarnya, yaitu belum tersedianya filosofi pendidikan dalam Muhammadiyah (http://eprints.ums.ac.id). Ironis, bila dalam mendidik seseorang tanpa dibekali terlebih dahulu dengan teori-teori yang bersifat abstrak, sebagai landasan tentang tujuan yang ingin dicapai. Bagian yang abstrak ini pemaknaannya banyak yang perlu diambil dari bidang filsafat. (Imam Barnadib, 2002: 5). Dengan demikian, untuk melakukan perubahan pendidikan, langkah awal yang harus dilakukan adalah merumuskan konsep dasar filosofis pendidikan karena pembaharuan pendidikan akan terarah dengan mantap apabila didasarkan pada filsafat dan teori pendidikan yang mantap pula. (Mukaddimah [perh.],1999: 58)
896. Kompetensi Profesional Guru Mata Pelajaran Ibadah Ditinjau Dari Penggunaan Media Pembelajaran
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu komponen yang sangat penting bagi manusia, karena pendidikan juga sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam peranannya di masa yang akan datang. Selain itu pendidikan memegang posisi kunci dalam pembangunan sumber daya manusia (Mastuhu, 2003: 138). Karena tinggi atau rendahnya kebudayaan suatu masyarakat, maju atau mundurnya tingkat kebudayaan suatu masyarakat dan negara, sebagian besar bergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru. Dengan kata lain, tinggi rendahnya suatu bangsa tergantung pada mutu pendidikannya (Ngalim Purwanto, 2004: 138)
Dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan tidak bergantung kepada satu komponen saja misalnya guru, melainkan sebagai sebuah sistem kepada beberapa komponen antara lain berupa program kegiatan pembelajaran, murid, sarana dan prasarana pembelajaran, dana, lingkungan masyarakat, dan kepemimpinan kepala sekolah. Namun semua komponen yang teridentifikasi di atas tidak akan berguna bagi terjadinya perolehan pengalaman belajar maksimal bagi peserta didik jika tidak didukung oleh keberadaan guru yang profesional.
Selain itu tanpa adanya guru yang profesional, maka semua komponen dalam proses balajar mengajar tidak akan banyak memberikan dukungan dan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal bagi upaya peningkatan mutu pembelajaran tanpa didukung oleh keberadaan guru yang secara kontinue berupaya mewujudkan gagasan, ide, dan pemikiran dalam bentuk perilaku dan sikap yang terunggul dalam tugasnya sebagai pendidik (Ibrahim Bafadal, 2008: 3-4). Guru sebagai komponen utama dalam pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menghasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, kill (keahlian), kematangan emosional, moral serta spiritual. Oleh karena itu, diperlukan seorang guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya (Kunandar, 2007: 40). Keberadaan guru, apalagi guru Pendidikan Agama Islam tidak bisa digantikan oleh sumber-sumber belajar yang lain. Hal ini karena guru Pendidikan Agama Islam tidak semata-mata berperan dalam kegiatan transfer of knowledge saja, tetapi juga berperan dalam kegiatan transfer of value. Dengan kata lain guru Pendidikan Agama Islam dituntut untuk dapat menanamkan peranan bukan hanya sekedar melaksanakan proses transformasi ilmu, tetapi juga harus dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, artinya guru juga harus dapat membentuk sikap dan perilaku peserta didiknya sebagai cerminan dari sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama Islam.
895. Hubungan Antara Tingkat Religiusitas Dengan Tingkat Kecemasan Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ujian Nasional merupakan sesuatu yang diwajibkan bagi para siswa sebagai persyaratan kelulusan. Bahkan hasil ujian dapat dijadikan bukti konkrit tentang kesanggupan bagi pelajar berpikir secara logis melalui proses yang memenuhi standar kompetensi yang ditentukan dan sesuai dengan prosedur akademik. Ujian Nasional seringkali ditanggapi serius oleh para siswa khususnya mereka yang duduk di bangku Sekolah Menegah Umum. Untuk itu mereka menyiapkan diri baik fisik maupun non fisik agar mereka terhindar dari kegagalan dalam Ujian Nasional. Jika mereka mengalami kegagalan dalam Ujian Nasional tersebut, maka mereka akan memikul beban moral seperti rasa malu, canggung, minder dan menghindari pergaulan yang pada akhirnya mereka akan kehilangan rasa percaya diri. Perasaan takut gagal tersebut dapat menjadi beban yang menyebabkan para siswa memiliki kecemasan dalam menghadapi Ujian Nasional. Kecemasan ini dapat mempengaruhi kondisi psikologis mereka yang akan mengganggu aktivitas mereka sebagai reaksi terhadap adanya sesuatu yang bersifat mengancam.
Ketenangan dalam menghadapi Ujian Nasional mutlak diperlukan bagi peserta Ujian Nasional. Salah satu upaya agar mereka terhindar dari kecemasan yang berlebihan adalah dengan meningkatkan religiustas mereka. Peran agama sangat dibutuhkan dalam mengatasi kecemasan yang timbul saat akan menghadapi Ujian Nasional. Sebagaimana studi yang dilakukan oleh Azhar, et. al. (1994) terhadap 62 pasien psikiatri yang beragama Islam, yang mengalami gangguan kecemasan menyeluruh. Sebagian pasien menerima pengobatan secara konvensional yaitu diberi obat anti cemas dan psikoterapi suportif. Sebagian lagi mendapatkan terapi yang sama akan tetapi ditambah dengan psikoreligius yaitu seperti berdoa, berzikir, dan mengkaji ataupun membaca Al Quran. Hasil yang diperoleh membuktikan bahwa pasien yang menerima tambahan terapi psikoreligius menunjukkan perbaikan yang pesat atau bermakna dari gejala-gejala kecemasannya dibandingkan dengan pasien yang hanya mendapatkan terapi konvensional. (Dadang Hawari, 2003: 120). Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah adalah lembaga pendidikan Islam yang mengidentifikasikan diri sebagai lembaga pendidikan yang berbasis pondok pesantren modern. Sehingga madrasah ini mengkombinasikan sistem sekolah dengan pondok pesantren. Untuk itu para siswanya wajib bertempat tinggal di dalam asrama dengan maksud agar dapat membantu terbentuknya pengalaman kehidupan Islami.
894. Hubungan Antara Tingkat Perhatian Orang Tua Dengan Tingkat Pengamalan Agama Islam
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam pendidikan Islam orang tua mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai pendidik dan pembimbing kesiapan anak dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu orang tua harus mampu menjadi tauladan bagi putra-putrinya. Keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak sebelum anak itu mengenal lingkungan luar. Maka orang tua harus memberikan perhatian yang cukup kepada anaknya agar memiliki kesiapan dalam melaksanakan ajaran Islam.
Orang tua yang terdiri dari Bapak dan Ibu, memiliki tanggung jawab yang besar dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Diantara tanggung jawab yang besar yang diwajibkan oleh Islam kepada para pendidik adalah tanggung jawab pendidikan fisik, agar anak-anak tumbuh seiring dengan baiknya pertumbuhan fisik, sehat badan, bergairah dan bersemangat. (Abdullah Nasih Ulwan, 1990: 1). Pendidikan fisik juga termasuk didalamnya pendidikan agama yang akan membentuk anak menjadi insan yang beragama, bertutur kata baik dan bertingkah laku dengan baik pula. Sikap keagamaan pada anak harus selalu diasah sejak usia dini agar anak dapat mengamalkan ajaran agama yang lebih mendalam nantinya dan hingga dewasa anak terbiasa untuk berpengetahuan agama dengan matang sebagai bekal pergaulannya bersama-sama dalam lingkungan masyarakat. Kebiasaan untuk mengenal dan menjalankan agama sejak kecil pada umumnya merupakan benteng yang kokoh bagi seseorang dalam menjaga moralitasnya ditengah-tengah pergaulan masyarakat. (Imam Bawani, 1990: 103). Kehangatan dan rasa aman merupakan dasar berkembangnya hubungan emosional yang baik antara orang tua dan anak. Selain itu juga hubungan yang penuh perhatian dan stimulasi sangat dibutuhkan oleh perkembangan yang sehat bagi anak. (Siti Rahayu Haditono, 1999: 98). Perhatian yang diberikan oleh orang tua terhadap anak sangat diperlukan karena orang tua adalah pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. (Zakiah Daradjat, 1986: 56). Orang tua juga adalah pendidik kodrati. Mereka pendidik bagi anak-anaknya karena secara kodrat Ibu dan Bapak diberikan anugerah oleh Allah berupa naluri orang tua. Dengan naluri itulah maka timbul rasa kasih sayang orang tua kepada anaknya, sehingga secara moral orang tua merasa terbeban tanggung jawab untuk memelihara, melindungi, mengawasi serta membimbingnya. (Jalaluddin, 2004: 222). Perhatian yang cukup dari orang tua terhadap anak-anaknya dapat menghasilkan sebuah perilaku yang positif karena segala tingkah lakuknya selalu mendapat arahan dari orang tua. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengamalan agama Islam siswa di SD Negeri Kaligondang diantaranya ialah: 1. faktor dari dalam (intern), yaitu kesadaran individu untuk menjalankan kewajibannya. 2. faktor dari luar (ekstern), yaitu faktor orang tua, faktor lingkungan, faktor
teman.
893. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu persoalan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah persoalan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan meningkatkan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, Indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang mencakup menggembirakan, namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan.
Berdasarkan masalah di atas, maka berbagai pihak mempertayakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita? Dan berbagai pengamat dan analisis, ada berbagai faktor yang menyebabkan mutu pendidikan kita mengelami peningkatan secara merata.1 Pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function atau input-output analisis yang tidak dilaksanakan secara konsekwen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendididjkan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga akan menghasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap input pendidikan seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, dan perbaikan sarana prasarana perbaikan lainnya dipenuhi, maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terjadi. Kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratissentralistik, sehingga meningkat sekolah sebagai penyelenggaraan pendidikan yang tergantung pada keputusan birokrasi-birokrasi. Kadang-kadang birokrasi itu sangat panjang dan kebijakannya tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Maka akses dari birokrasi panjang dan sentralisasi itu, sekolah menjadi tidak mandiri, kurangya kreatifitas dan motivasi. Ketiga, minimnya peranan masyarakat khususnya orang tua sisiwa dalam penyelenggaraan pendidikan, pratisipasi orang tua selama ini dengan sebatas pendukung dana, tapi tidak dilibatkan dalam proses pendidikan seperti mengambil keputusan, monitoring, evaluasi dan akuntabilitas, sehingga sekolah tidak memiliki beban dan tanggung jawab hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat/orang tua sebagai stake holder yang berkepentingan dengan pendidikan. Keempat, krisis kepemimpinan, dimana kepala sekolah yang cenderung tidak demokratis, sistem topdown policy baik dari kepala sekolah terhadap guru atau birokrasi diatas kepala sekolah terhadap sekolah.2 Munculnya paradigma Guru tentang manajemen berbasis sekolah yang bertumpu pada penciptaan iklim yang demokratisasi dan pemberian kepercayaan
892. Pengaruh Pembelajaran Aqidah Akhlak Terhadap Etika Siswa
BAB I
PENDAHULUAN.
A. Latar Belakang Masalah
Telah peneliti pahami bahwa para remaja berkembang secara integral, dalam arti fungsi–fungsi jiwanya saling mempengaruhi secara organik. Karenanya sepanjang perkembangannya membutuhkan bimbingan sebaik– baiknya dari orang yang lebih dewasa dan bertanggung jawab terhadap jiwa para remaja yang menurut kodratnya terbuka terhadap pengaruh dari luar. Namun tidak jarang para remaja mengambil jalan pintas untuk mengatasi kemelut batin yang mereka alami itu. Pelarian batin ini terkadang akan mengarah ke perbuatan negatif dan merusak, seperti kasus narkoba, tawuran antar pelajar, maupun tindak kriminal merupakan bagian dari kegagalan para remaja dalam menemukan jalan hidup yang dapat menentramkan gejolak batinnya. Sehingga jika tingkah laku yang diperlihatkan sesuai dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku tersebut dinilai baik dan diterima.
Sebaliknya, jika tingkah laku tersebut tidak sesuai atau bertentangan dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku dinilai buruk dan ditolak (Jalaluddin,2005:276) Akibatnya peranan serta efektivitas Pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs sebagai landasan bagi pengembangan spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat dipertanyakan. Dengan demikian jika Pembelajaran Aqidah Akhlak yang dijadikan landasan pengembangan nilai spiritual dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakat akan lebih baik. 2 Juga sebagaimana diketahui, bahwa inti ajaran Islam meliputi: masalah keimanan (akidah), masalah keislaman (syari’ah), dan masalah ikhsan (akhlak) (Zuhairini,2004:48). Kemudian ruang lingkup akhlak meliputi tiga bidang yaitu akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak terhadap alam lingkungan.
Dengan demikian, akhlak mencakup jasmani dan rohani, lahir dan batin, dunia dan akhirat, bersifat universal, berlaku sepanjang zaman dan mencakup hubungan dengan Allah, manusia dan alam lingkungan (Depag RI,1988:7). Demikian pula dengan pendidikan yang bijaksana dan mengetahui metodologi yang tepat bagi masing–masing individu (siswa), diharapkan para remaja dapat mencapai kesempurnaan.
Selanjutnya peneliti tahu bahwa pada umumnya pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, karsa, rasa, cipta dan budinurani) dan jasmani (pancaindera serta ketrampilan-ketrampilan) (TIM Dosen Malang,1988:7).
Disamping itu, pada hakekatnya pendidikan merupakan kebutuhan yang utama bagi manusia, yang dimulai sejak manusia lahir sampai meninggal dunia, bahkan manusia tidak akan menjadi manusia yang berkepribadian utama tanpa melalui pendidikan. Begitu pula dengan Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan tingkah laku siswa. Apalagi dalam pelaksanaan Pembelajaran
891. Pengaruh Model Pembelajaran Tuntas Terhadap Hasil Belajar Al Qur’an Hadits
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu di antara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar, khususnya peserta didik MTs. Masalah lain adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis, belum memanfaatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual (Ahmadi,2004:50)
Demikian juga proses pendidikan dalam sistem persekolahan kita, umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai peserta didik menguasai materi pembelajaran secara tuntas. Akibatnya, banyak peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolah. Tidak heran kalau mutu pendidikan secara nasional masih rendah. Penerapan Standar Isi yang berbasis pendekatan kompetensi sebagai upaya perbaikan kondisi pendidikan di tanah air ini memiliki beberapa alasan,di antaranya: potensi peserta didik berbeda-beda, dan potensi tersebut akan berkembang jika stimulusnya tepat; mutu hasil pendidikan yang masih rendah serta mengabaikan aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni & olah raga, serta kecakapan hidup (life skill); persaingan global yang memungkinkan hanya mereka yang mampu akan berhasil (Uzer,2003:155) 1. Persaingan kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) produk lembaga pendidikan; 2. persaingan yang terjadi pada lembaga pendidikan, sehingga perlu rumusan yang jelas mengenai standar kompetensi lulusan. Upaya-upaya dalam rangka perbaikan dan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi meliputi: kewenangan pengembangan, pendekatan pembelajaran, penataan isi/konten, serta model sosialisasi, lebih disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi serta era yang terjadi saat ini. Pendekatan pembelajaran diarahkan pada upaya mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengelola perolehan belajar (kompetensi) yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan demikian proses pembelajaran lebih mengacu kepada bagaimana peserta didik belajar dan bukan lagi pada apa yang dipelajari.
Sesuai dengan cita-cita dari tujuan pendidikan nasional, guru perlu memiliki beberapa prinsip mengajar yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal peserta didik di dalam merancang strategi dan melaksanakan pembelajaran. Peningkatan potensi internal itu misalnya dengan menerapkan jenis-jenis strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara penuh, utuh dan kontekstual.
890. Pengaruh Metode Menghafal Terhadap Peningkatan Aspek Kognitif Siswa
ABSTRAKSI
Manusia lahir ke dunia dibekali dengan kemampuan motorik yang berfungsi untuk mempermudah manusia beradaptasi dengan lingkungannya sebagai awal dari proses belajarnya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam kegiatan belajar-mengajar, metode yang tepat guna akan mepermudah peserta didik beradaptasi dengan pelajaran yang disampaikan sehingga mampu dipahaminya dengan mudah dan pada akhirnya tujuan pembelajaran dan pendidikan akan tercapai. Salah satu yang digunakan untuk menyampaikan pelajaran adalah metode menghafal. Metode ini diyakini sebagai sebuah bentuk asimilasi otak anak dengan lingkungan barunya (pelajaran atau teori baru yang belum dikenalnya). Dengan metode menghafal, peserta didik diharapkan mampu mengingat pelajaran atau teori baru kemudian mengolahnya ketingkat selanjutnya dalam aspek kognitif.
Permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian ini ada dua macam, pertama tentang ada tidaknya Pengaruh Metode Menghafal Terhadap peningkatan aspek Kognitif Siswa di Madrasah Diniyah Sufla Ar-Rasyidien Poreh Lenteng Sumenep Tahun Pelajaran 2009-2010, dan kedua adalah besarnya Pengaruh Metode Menghafal Terhadap peningkatan aspek Kognitif Siswa di Madrasah Diniyah Sufla Ar-Rasyidien Poreh Lenteng Sumenep Tahun Pelajaran 2009-2010.
Populasi penelitian ini adalah siswa Madrasah Diniyah sufla Ar-Rasyidien sebanyak 131 orang, sedangkan sampel penelitian sebesar 50% yakni 66 orang. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, angket, interview dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan dalah analisis statistik korelasi product moment
Hasil penelitian meunujukkan adanya Pengaruh Metode Menghafal Terhadap peningkatan aspek Kognitif Siswa di Madrasah Diniyah Sufla Ar-Rasyidien Poreh Lenteng Sumenep Tahun Pelajaran 2009-2010 meskipun dengan intrepretasi agak rendah.
889. Manajemen Pendidikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasydien
ABSTRAK
Perkembangan dunia pendidikan dewasa ini semakin membutuhkan manajemen atau pengelolaan yang baik. Demikian juga dalam hal pembelajaran baca tulis Al-Qur’an sangat diperlukan adanya penanganan yang serius baik dari segi ketepatan metode atau sistem, pendekatan atau perencanaan manajemen yang matang. Dalam meningkatkan kemampuan managerial dan kemampuan teknik masih mengalami berbagai hambatan yang mengakibatkan tidak terlaksana secara optimal. Berangkat dari berbagai permasalahan di atas, penulis berusaha mengadakan penelitian dengan judul Manajemen Pendidikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh Lenteng Sumenep.
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui manajemen pendidikan yang dikembangkan (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh Lenteng-Sumenep, upaya-upaya yang dilakukan dalam mengembangkan (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin dan mengetahui faktor penghambat terhadap pelaksanaan pendidikan (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh.
Penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian deskriptif kualitaif. Dan dalam pengumpulan datanya, penulis menggunakan metode observasi, interview dan dekomentasi. Sedangkan analisisnya, penulis mengunakan interprestasi, karena penelitian ini temasuk penelitian kualitatif deskriptif.
Dari hasil penelitian ini dapat disampaikan bahwasanya manajemen pendidikan untuk pengembangan (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh sudah dilakukan tapi belum sempurna, dengan meningkatkan program pengajaran, santri, guru, keuangan sekolah, sarana dan prasarana dan hubungan masyarakat. Sedangkan hambatan-hambatan pelaksanaan manajemen Pendidikan (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh yang bersumber dari manusia dan non manusia. Dengan hasil demikian, maka disarankan agar pengurus TPQ Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh terus berusaha menyempurnakan pelaksanaan manajemen Pendidikannya.
888. Pengaruh Pembelajaran Taman Pendidikan Al-Qur’an (Tpq) Terhadap Prestasi Belajar
Latar Belakang Masalah
Agama Islam adalah agama yang bersumber pada wahyu Allah SWT yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan pada seluruh umat sebagai petunjuk dalam menata langkah-langkah kehidupan yang mereka jalani.
Pada ayat pertama turun Q.S Al-Alaq sebagai berikut:
Maksud ayat di atas sangat jelas bahwa Allah telah menyeruhkan pada manusia untuk selalu membaca ataupun memahami ilmu-ilmu Allah yang belum diketahui atau yang sudah diketahui olehnya sebagai pengembangan fitrah manusia yang selalu ingin tahu. Keinginan manusia itu akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan usia serta strata sosial yang mempengaruhinya. Pada usia anak-anak sudah barang tentu tidak akan sama, keingintahuan mereka dalam usia remaja juga dewasa, begitu juga dalam hal pemenuhan kebutuhan psikis (pendidikan).
Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang tidak sama pada lapisan masyarakat, masyarakat yang lebih maju tentu akan banyak tuntutan kebutuhan bila dibandingkan dengan masyarakat yang masih dalam taraf kehidupan sederhana, sehingga dalam masalah pendidikan itu sendiri merupakan masalah yang sangat kompleks.
Namun demikian karena pada hakekatnya pendidikan itu hanyalah merupakan ihtiar manusia saja dalam mengarahkan dan mengembangkan aspek-aspek kepribadian manusia baik jasmani maupun rohani kepada arah yang lebih baik. Sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya, maka bangsa Indonesia yang berdasarkan pancasila dan undang-undang dasar 1945, hal ini dapat kita lihat pada tujuan atau fungsi pendidikan Nasional yang tertuang dalam Undang-undang Dasar Negara RI Nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional, pasal 3 bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas, 2008: 6-7).
Walaupun demikian untuk pemerataan tingkat pendidikan, pemerintah telah mengklasifikasikan jenjang pendidikan menjadi 3 (tiga): Yakni pendidikan tingkat dasar, pendidikan tingkat menengah dan pendidikan tingkat tinggi.
887. Peran Guru Agama Dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional Dan Spiritual Anak
ABSTRAK
Kecerdasan emosional dan spiritual adalah hal yang sangat penting terhadap kepribadian anak didik dan kesuksesan anak didik. Dua kecerdasan ini adalah sebagai penentu dalam mewujudkan suatu kesuksesan dibandingkan kecerdasan otak (intelektual). Maka dalam mencapai kecerdasan itu diperlukan adanya peran dari guru agama. Adapun fokus penelitian ini adalah bagaimana peran guru agama dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak di SDI Mathlabul Ulum Jambu dan apakah peran yang dilakukan guru agama sesuai dengan teori yang ada. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi terhadap pengembangan SDI Mathlabul Ulum Jambu yaitu untuk mengetahui tentang bagaima peran guru agama dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak di SDI Mathlabul Ulum Jambu dan untuk mengetahui apakah peran yang dilakukan guru agama sesuai dengan teori yang ada.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan kualitatif. Jenis penelitiannya adalah jenis sosioligis. Lokasi penelitiannya tepatnya di SDI Mathlabul Ulum Jambu Lenteng Sumenep. Sedangkan sumber datanya adalah manusia dan non manusia. Prosedur pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi terbuka, wawancara dan dokumentasi. Instrumen penelitiannya adalah peneliti sendiri. Sedangkan analisis datanya adalah mengoreksi, mengelompokkan dan pemberian kode. Untuk pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan cara perpanjangan keikutsertaan, ketekungan pengamatan, uraian rinci, trianggulasi dan analisis kasus negatif.
Hasil temuan dalam penelitian ini adalah pertama, Peran guru agama dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual sangat tinggi nilainya, hal ini dapat dilihat dari peran guru agama yang sagat aktif dalam pengembangan dua kecerdasan ini terhadap anak didiknya, dan kecerdasan emosional dan spiritual ini menjadi target pengembangan utama di SDI ini. Kedua, peran yang dilakukan oleh guru agama tidak sesuai dengan teori yang ada, artinya ada teori yang tidak dilakukan oleh guru agama.
Kesimpulan akhir dari penulisan skripsi ini adalah bahwa Peran guru agama dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan spiritual anak sangat besar di lembaga ini karena tujuan yang diharapkan adalah menciptakan anak didik yang memiliki kepribadian yang baik lahir dan batin. Harapan penulis untuk meningkat kembali perannya yan telah dilakukan oleh guru agama lebih-lebih penggunaan terhadap teori-teori yang ada. Kepada para pembaca diharapkan sumbangan pemikirannya yang sifatnya membangun. Semoga penulisan skripsi ini bermanfaat bagi semua insan yang ada di dunia ini. Amien.
886. Pengaruh Pendidikan Agama Islam Terhadap Pembentukan Akhlak Siswa
ABSTRAK
Pendidikan Agama Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan al-Qur’an terhadap anak-anak agar terbentuk kepribadian muslim yang sempurna. Agar anak mempunyai akhlak yang mulia, anak didik diharapkan dapat memperhati-kan pelajaran berbasis agama sebagai kontrol dalam kehidupan anak didik. Secara umum tujuan Pendidikan Agama Islam adalah untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt serta berakhlak mulia. Sedangkan fungsi Pendidikan Agama Islam adalah untuk menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta membiasakan siswa berakhlak mulia.
Ada dua permasalahan yang menjadi kajian pokok dalam penelitian ini. Pertama, adakah pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap Pembentukan Akhlak Siswa di MA Nurul Huda I Talang Saronggi Sumenep, kedua, seberapa besar pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap Pembentukan Akhlak Siswa di MA Nurul Huda I Talang Saronggi Sumenep.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MA Nurul Huda I Talang Saronggi Sumenep yang berjumlah 120 orang. Karena jumlah populasinya lebih dari 100 orang, maka sampel yang diambil adalah 25% yaitu hanya 21 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh Pendidikan Agama Islam terhadap pembentukan akhlak siswa di MA Nurul Huda I Talang Saronggi Sumenep tahun pelajaran 2010/2011. Hal ini dibuktikan dengan nilai ”r” kerja yaitu 0,705 > ”r” tabel yaitu 0,433. Hasil “r” kerja dalam penelitian ini yaitu 0,705 berada antara 0,600 s/d 0,800 yang menunjukkan korelasi Cukup.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka pembelajaran Pendidikan Agama Islam mempunyai pengaruh CUKUP terhadap pembentukan akhlak siswa MA Nurul Huda I Talang Kec. Saronggi Kab. Sumenep tahun pelajaran 2010-2011.
885. Partisipasi Masyarakat Dalam Upaya Mengembangkan Pendidikan Islam
ABSTRAK
Dalam pelaksanaan pendidikan, khususnya pendidikan Islam di mana objeknya adalah pribadi anak yang sedang berkembang, maka adanya hubugan timbal balik antara penanggung jawab pendidikan yaitu pemerintah (sekolah), keluarga dan masyarakat pada umumnya mutlak diperlukan. Dengan kata lain, suatu kerja sama antara penanggung jawab pendidikan tersebut perlu diintensifkan, adanya keharusan hubungan antara sekolah dengan orang tua murid (masyarakat) tersebut, karena Sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat, ia bukan merupakan lemabaga yang terpisah dari masyarakat, Sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan, Kemajuan sekolah dan kemajuan masyarakat saling berkorelasi, keduanya saling membutuhkan serta Masyarakat adalah pemilik sekolah, sekolah ada karena masyarakat memerlukannya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mendiskripsikan bagaimana partisipasi masyarakat terhadap pengembangan pendidikan Islam di MI Miftahul Khair I Desa Banaresep Timur Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep. Mengacu pada tujuan di atas, memandang untuk diadakan penelitian tentang bagaimana upaya mengetahui bentuk-bentuk partisipasi masyarakat terhadap pengembangan pendidikan Islam di MI Miftahul Khair I Desa Banaresep Timur Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang mana dalam menjabarkan hasil dari penelitian ini tidak berupa angka-angka, melainkan bersifat deskriptif atau penjelasan yang bersifat ilmiyah tentang fakta-fakta yang ada di lapangan. Pada penelitian ini, dalam pengumpulan data digunakan metode observasi, interview dan dokumentasi.
Untuk menganalisa data-data yang telah diperoleh melalui metode-metode di atas digunakan analisa data deskriptif reflektif. Setelah dilakukan analisa terhadap data yang telah diperoleh dapat disimpulkan bahwa, Partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan Islam di MI Miftahul Khair I Desa Banaresep Timur Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep sangat dibutuhkan guna meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan Islam. Karena masyarakat adalah pemilik sekolah, sekolah ada karena masyarakat memerlukannya. Sedangkan bentuk partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan Islam di MI Miftahul Khair I Desa Banaresep Timur Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep yaitu berupa pembinaan sarana dan prasarana, penyediaan dana dan peningkatkan kualitas pendidikan sehingga MI Miftahul Khair I dari segi sarana dan prasarana sudah sempurna, serta proses pembelajaran berjalan kondusif dan intensif
884. Strategi Lembaga Pendidikan Pesantren Dalam Menghadapi Tantangan Di Era Globalisasi
ABSTRAK
Cepatnya arus perubahan sosial yang dimotori oleh gelombang globalisasi yang menerpa setiap struktur kehidupan masyarakat telah membawa perubahan dalam pola pikir dan tingkah laku masyarakat. Pada era globalisasi setiap manusia dituntut untuk mampu bersaing dalam setiap segi kehidupan. Dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks di lingkungan masyarakat, maka pondok pesantren harus berani tampil dan mengembangkan dirinya sebagai pusat keunggulan. Pondok pesantren tidak hanya mendidik santri agar memiliki ketangguhan jiwa (taqwimu al-nafs), jalan hidup yang lurus, budi pekerti yang mulia, tetapi juga santri yang dibekali dengan berbagai disiplin ilmu keterampilan lainnya, guna dapat diwujudkan dan mengembangkan segenap kualitas yang dimilikinya.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem pendidikan, strategi dilakukan, serta faktor-faktor yang mendukung dan menghambat Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Kasri Malang dalam menghadapi tantangan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif, yakni mendeskripsikan permasalahan-permasalahan yang diteliti dengan pendekatan studi kasus.
Secara ringkas hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang diterapkan Pondok Pesantren Miftahul Huda adalah ”sistem salafiyah terpadu”dengan tetap mempertahankan aspek tasawufnya. Adapun strategi yang dilakukan Pondok Pesantren Miftahul Huda dalam menghadapi tantangan di era globalisasi antara lain dengan melakukan upaya-upaya sebagai berikut: selektif terhadap perubahan sosial, peningkatan kualitas tenaga pengajar, pembaharuan kurikulum pesantren, memperbaharui metode pembelajaran, pembinaan ketrampilan dan keahlian, serta memperbaiki sarana dan prasarana. Adapun faktor pendukungnya yaitu: Sikap kyai yang tanggap terhadap perubahan sosial serta tanggap terhadap orientasi kebutuhan para santri, keikhlasan dari pengurus serta kreativitas mereka dalam memanage pesantren dan santri, kesadaran dan kegigihan para santri untuk tetap mengikuti segala kegiatan dan pelatihan yang diadakan pihak pesantren maupun pihak luar, serta kesadaran orang tua santri akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya terutama pendidikan agama sebagai modal dasar dalam menjalani kehidupan terutama di era globalisasi seperti saat ini. Sedangkan faktor yang menghambat dalam upaya tersebut antara lain: kurangnya fasilitas sarana dan prasarana pendidikan, Kendala dana, serta kurangnya niat santri untuk belajar di Pondok.
Subscribe to:
Posts (Atom)

