Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian

901. Metode Bercerita Sebagai Penanaman Pendidikan Agama Islam Pada Anak Usia Pra-Sekolah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama. Dalam jiwa manusia ada satu perasaan yang mengakui adanya Dzat Yang Maha Kuasa, tempat berlindung dan memohon pertolongan-Nya. Manusia akan merasa tenang dan tentram hatinya kalau dapat mendekat dan mengabdi kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Agama mengajarkan manusia agar selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Itulah sebabnya manusia memerlukan pendidikan agama untuk menuntun ibadahnya. Di sisi lain manusia diberi kemampuan untuk membina anak didiknya agar menjadi orang baik dan mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat serta akhlak yang terpuji. Perkembangan agama sejak usia dini anak-anak memerlukan dorongan dan rangsangan sebagaimana pohon memerlukan air dan pupuk. Minat dan cita-cita anak perlu ditumbuh kembangkan ke arah yang baik dan terpuji melalui pendidikan. Cara memberikan pendidikan atau pengajaran agama haruslah sesuai dengan perkembangan psikologis anak didik. Oleh karena itu dibutuhkan pendidik yang memiliki jiwa pendidik dan agama, supaya segala gerak-geriknya menjadi teladan dan cermin bagi murid-muridnya. Tingkat usia kanak-kanak merupakan kesempatan pertama yang sangat baik bagi pendidik untuk membina kepribadian anak yang akan menentukan masa depan mereka. Penanaman nila-nilai agama sebaikya dilaksanakan kepada anak pada usia pra-sekolah, sebelum mereka dapat berpikir secara logis dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum dapat membedakan hal yang baik dan buruk. Agar semenjak kecil sudah terbiasa dengan nilai-nilai kebaikan dan dapat mengenal Tuhannya yaitu Allah SWT. Anak didik pada usia Taman Kanak-kanak masih sangat terbatas kemampuannya. Pada umur ini kepribadiannya mulai terbentuk dan ia sangat peka terhadap tindakan-tindakan orang di sekelilingnya. Pendidikan agama diperlukan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik misalnya membaca do.a tiap kali memulai pekerjaan seperti do.a mau makan dan minum, do.a naik kendaraan, do.a mau pulang, dan lain-lain yang biasa di terapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Di samping itu memperkenalkan Tuhan yang Maha Esa secara sederhana, sesuai dengan kemampuannya. 2 Metode yang digunakan dalam menyampaikan pendidikan agama pada anak tentu berbeda dengan metode yang dilaksanakan untuk orang dewasa. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Zakiyah Daradjat sebagai berikut : .Anakanak bukanlah orang dewasa yang kecil, kalau kita ingin agar agama mempunyai arti bagi mereka hendaklah disampaikan dengan cara-cara lebih konkrit dengan bahasa yang dipahaminya dan tidak bersifat dogmatic saja. File Selengkapnya.....

900. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menangani Kenakalan Siswa

ABSTRAK Pola pergaulan dan pengaruh tayangan televisi tidak baik yang terjadi pada anak dapat menjadi alasan mengapa anak-anak usia sekolah seringkali melakukan kenakalan yang dilakukan kepada teman-temannya. Seringkali kenakalan tersebut dilakukan tanpa sengaja maupun disengaja. Kondisi inilah yang perlu mendapat perhatian serius oleh pendidik di sekolah khususnya guru pendidikan agama Islam, agar kenakalan-kenakalan tersebut tidak menjadi kebiasaan bagi anak didik tersebut. Berdasarkan kenyataan tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimana bentuk-bentuk kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta?. Bagaimana upaya guru pendidikan agama Islam dalam menangani kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta?. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta dan upaya guru pendidikan agama Islam dalam menangani kenakalan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), dilaksanakan di SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta, pada bulan Mei 2010. Dalam penelitian tersebut melibatkan guru pendidikan agama Islam kelas III dan siswa kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Untuk mendapatkan data lapangan dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun analisis datanya bersifat deskriptif kualitatif, yaitu: pengumpulan data sekaligus reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dapat disimpulkan, bahwa bentuk-bentuk kenakalan siswa adalah: (1) bentuk-bentuk kenakalan siswa yang dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja yang masih dalam taraf pelanggaran ringan, contoh: memasukkan cabe ke dalam makanan serabi. (2) bentuk-bentuk kenakalan siswa yang dilakukan dengan sengaja yang masuk dalam taraf pelanggaran berat, contoh: minta uang terhadap adik kelas secara paksa sambil mengancam. Adapun upaya guru pendidikan agama Islam dalam menangani kenakalan siswa adalah: (1) Upaya pencegahan kenakalan siswa (upaya preventif), yaitu: menghilangkan gejala-gejala, menceritakan tokoh idola, menerapkan konsekuensi atau peraturan dengan prosedur yang jelas, dan mengisi waktu kosong dengan baik. (2) Upaya penanganan kenakalan siswa (upaya kuratif), yaitu: membaca Istigfar, menyikapi penyebab dan jenis kenakalan, menasihati, memberi peringatan dan pemahaman, isyarat nonverbal, membetulkan kenakalan dan memuji siswa lain yang tidak melakukan kenakalan, dan konsultasi lewat telpon dan pemanggilan orang tua. File Selengkapnya.....

899. Efektifitas Metode Demonstrasi Pada Pembelajaran Bidang Studi Fiqih

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keefektifan metode demonstrasi pada bidang studi Fiqih di MTs. Soebono Mantofani Jombang- Ciputat, dengan metode deskriptif analisis terhadap data yang penulis peroleh dari lapangan. Untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, penulis merumuskan pertanyaan penelitian yang terperinci dan bersifat operasional. Fiqih yang dimaksud adalah pengertian fiqih yang terdapat dalam GBPP MTs. yaitu bimbingan untuk mengetahui ketentuan-ketentuan syariat Islam atau usaha bimbingan terhadap anak didik agar memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam. Sedangkan metode demonstrasi adalah cara pembelajaran dengan memperagakan, mempertunjukkan atau memperlihatkan sesuatu di kelas atau di luar kelas baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan angket yang disebarkan kepada siswa dengan cara random sampling/secara acak. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas VII MTs. Soebono Mantofani tahun ajaran 2007-2008 yang berjumlah 135 siswa untuk memudahkan penelitian maka penulis bulatkan menjadi 60 siswa (sebagai sampel penelitian). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode demonstrasi efektif digunakan pada bidang studi fiqih di MTs. Soebono Mantofani. Keefektifan metode ini disebabkan mamberi kemudahan pada siswa dalam memahami pelajaran.File Selengkapnya.....

898. Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Hadist Perintah Shalat

ABSTRAKSI Hadits riwayat Imam Abu Daud adalah hadits yang akan penulis teliti. Seperti halnya telah penulis tuliskan diatas. Karena hadist tersebut penulis anggap hadits yang bermuatan pendidikan. Terutama pendidikan terhadap anak. Dalam penelitian tersebut penulis menggunakan metode penelitian;1. Jenis penelitian, yakni penelitian kepustakaan (library research) yaitu mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam materi yang dapat diperoleh dari perpustakaan.2. Sifat penelitian, yakni deskriptif-analisis yaitu pemaparan apa adanya terdapat apa yang dimaksud dalam teks dengan cara memfrasekan dengan bahasa peneliti. Sedangkan pengolahan data 1. Adapun nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung didalamnya ialah; a. Nilai Pendidikan Keimanan. b. Nilai Pendidikan Ibadah. c. Nilai Pendidikan Akhlaq. d. Nilai Pendidikan Seks Bagi Anak 2. Sedangkan implikasinya ialah; a. Nilai-nilai pendidikan Islam dapat dijadikan alat pengubah anak didik melalui proses pendidikan baik, dapat digunakan sebagai pedoman (patokan) dalam pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya, diaplikasikam guna membentuk manusia yang bertaqwa melalui ibadah mahdloh maupum ghairu mahdlohnya dan dapat diterapkan atau dilibatkan dalam pengasuhan anak melalui proses pendidikan, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. b. Pendidikan Keimanan, Pendidikan Ibadah, Pendidilkan Akhlaq dan Pendidikan Seks Bagi Anak. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan atau dilibatkan dalam setiap lini pendidikan anak dalam Islam. File Selengkapnya.....

897. Konstruksi Filsafat Pendidikan Muhammadiyah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Muhammadiyah kini telah berkembang dengan ribuan amal usahanya yang banyak menyentuh lapisan masyarakat. Berdasarkan data tahun 2005 yang dimuat dalam Profil Muhammadiyah 2005, organisasi ini tercatat telah memiliki amal usaha yaitu: 1132 Sekolah Dasar (SD), 1769 Madrasah Ibtidaiyah/Diniyah (MI/MD), 1184 Sekolah Menengah Pertama (SMP), 534 Madrasah Tsanawiyah (MTs), 511 Sekolah Menengah Atas (SMA), 263 Madrasah Aliyah (MA), 172 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), 67 Pondok pesantren, 55 Akademi, 4 Politeknik, 70 Sekolah Tinggi, 36 Universitas, 345 amal usaha kesehatan, 330 amal usaha sosial, 19 Bank Perkreditan Rakyat (BPR), 190 Baitul Tanwil Muhammadiyah (BTM), dan 808 Koperasi (Warga) Muhammadiyah (Tim Penyusun dan Penerbitan Profil Muhammadiyah 2005, 2005: viii). Di antara sekian ribu amal usaha tersebut, bidang pendidikan menjadi garapan yang tak pernah usang dari awal berdiri hingga kini. Gebrakan K.H. Ahmad Dahlan dalam sistem pendidikan Indonesia yang pada masa itu masih dikotomik menjadi icon tersendiri bagi Muhammadiyah sebagai perintis sistem pendidikan integralistik. Gagasan K.H. Ahmad Dahlan tersebut menjadi jawaban permasalahan pendidikan atas dua sistem pendidikan pada waktu itu yang sama-sama ekstrim. Sistem yang satu hanya menekankan pada sisi religiusitas sedangkan sistem yang lainnya hanya menekankan pada sisi duniawi (Khozin, 2005: 4). Kedua sistem ini hanya mampu melahirkan manusia “cacat” yang sempit dalam religiusitasnya atau manusia-manusia sekuler yang tak mengenal agama. K.H. Ahmad Dahlan menawarkan konsep baru yang bertolak pada pemahaman hakikat manusia secara utuh. Pendidikan seyogyanya melahirkan manusia-manusia tangguh yang siap menghadapi problema masa depan. Untuk itulah, K.H. Ahmad Dahlan membuat alternatif baru yaitu dengan memadukan sistem pendidikan pribumi atau pesantren dengan sistem pendidikan kolonial yang sesuai dengan ajaran Islam (Khozin, 2005: 4). Hasilnya, terbentuk sistem pembelajaran yang tidak hanya mencekoki peserta didik dengan satu cabang ilmu melainkan mengombinasikan ilmu umum dan ilmu agama. Dalam usia menjelang satu abad, Muhammadiyah sekarang telah berkembang pesat dengan ribuan amal usaha, termasuk di bidang pendidikan. Secara fisik dan kuantitas, Muhammadiyah bisa dikatakan jauh melampaui masa-masa awal berdirinya. Namun demikian, tak berarti secara kualitas pendidikan Muhammadiyah juga berlari seiring perkembangan secara kuantitas. Kini, seringkali pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah kembali dipertanyakan. Masihkah lembaga pendidikan Muhammadiyah jaya seperti dulu sebagai sekolahsekolah yang mempunyai daya saing? Apabila ditinjau lebih mendalam, ada stagnansi dalam tubuh Muhammadiyah khususnya ghirah ber-Muhammadiyah dalam kurun 1970-an hingga awal abad XXI (Khozin, 2005: 7). Berbagai kritik juga muncul, melihat pendidikan Muhammadiyah yang belum mampu mencerminkan nilai-nilai Islam dalam perilaku warga sekolahnya. Selain itu, berbagai indikasi masih kurangnya kualitas pendidikan Muhammadiyah seperti lemahnya daya saing dengan sekolah-sekolah lain hingga dalam hal pembiayaan yang tidak lagi berpihak pada kaum ekonomi lemah menjadikan kaburnya identitas pendidikan Muhammadiyah (http://eprints.ums.ac.id). Berbagai permasalahan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan perombakan kurikulum, peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan, ataupun dengan pemberian subsidi pada ranah komponen pendidikannya. Untuk itu, perlu keberanian untuk mencari akar permasalahan yang sebenarnya, yaitu belum tersedianya filosofi pendidikan dalam Muhammadiyah (http://eprints.ums.ac.id). Ironis, bila dalam mendidik seseorang tanpa dibekali terlebih dahulu dengan teori-teori yang bersifat abstrak, sebagai landasan tentang tujuan yang ingin dicapai. Bagian yang abstrak ini pemaknaannya banyak yang perlu diambil dari bidang filsafat. (Imam Barnadib, 2002: 5). Dengan demikian, untuk melakukan perubahan pendidikan, langkah awal yang harus dilakukan adalah merumuskan konsep dasar filosofis pendidikan karena pembaharuan pendidikan akan terarah dengan mantap apabila didasarkan pada filsafat dan teori pendidikan yang mantap pula. (Mukaddimah [perh.],1999: 58)
File Selengkapnya.....

896. Kompetensi Profesional Guru Mata Pelajaran Ibadah Ditinjau Dari Penggunaan Media Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu komponen yang sangat penting bagi manusia, karena pendidikan juga sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam peranannya di masa yang akan datang. Selain itu pendidikan memegang posisi kunci dalam pembangunan sumber daya manusia (Mastuhu, 2003: 138). Karena tinggi atau rendahnya kebudayaan suatu masyarakat, maju atau mundurnya tingkat kebudayaan suatu masyarakat dan negara, sebagian besar bergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru. Dengan kata lain, tinggi rendahnya suatu bangsa tergantung pada mutu pendidikannya (Ngalim Purwanto, 2004: 138) Dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan tidak bergantung kepada satu komponen saja misalnya guru, melainkan sebagai sebuah sistem kepada beberapa komponen antara lain berupa program kegiatan pembelajaran, murid, sarana dan prasarana pembelajaran, dana, lingkungan masyarakat, dan kepemimpinan kepala sekolah. Namun semua komponen yang teridentifikasi di atas tidak akan berguna bagi terjadinya perolehan pengalaman belajar maksimal bagi peserta didik jika tidak didukung oleh keberadaan guru yang profesional. Selain itu tanpa adanya guru yang profesional, maka semua komponen dalam proses balajar mengajar tidak akan banyak memberikan dukungan dan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal bagi upaya peningkatan mutu pembelajaran tanpa didukung oleh keberadaan guru yang secara kontinue berupaya mewujudkan gagasan, ide, dan pemikiran dalam bentuk perilaku dan sikap yang terunggul dalam tugasnya sebagai pendidik (Ibrahim Bafadal, 2008: 3-4). Guru sebagai komponen utama dalam pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menghasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, kill (keahlian), kematangan emosional, moral serta spiritual. Oleh karena itu, diperlukan seorang guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya (Kunandar, 2007: 40). Keberadaan guru, apalagi guru Pendidikan Agama Islam tidak bisa digantikan oleh sumber-sumber belajar yang lain. Hal ini karena guru Pendidikan Agama Islam tidak semata-mata berperan dalam kegiatan transfer of knowledge saja, tetapi juga berperan dalam kegiatan transfer of value. Dengan kata lain guru Pendidikan Agama Islam dituntut untuk dapat menanamkan peranan bukan hanya sekedar melaksanakan proses transformasi ilmu, tetapi juga harus dapat melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, artinya guru juga harus dapat membentuk sikap dan perilaku peserta didiknya sebagai cerminan dari sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama Islam. File Selengkapnya.....

895. Hubungan Antara Tingkat Religiusitas Dengan Tingkat Kecemasan Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ujian Nasional merupakan sesuatu yang diwajibkan bagi para siswa sebagai persyaratan kelulusan. Bahkan hasil ujian dapat dijadikan bukti konkrit tentang kesanggupan bagi pelajar berpikir secara logis melalui proses yang memenuhi standar kompetensi yang ditentukan dan sesuai dengan prosedur akademik. Ujian Nasional seringkali ditanggapi serius oleh para siswa khususnya mereka yang duduk di bangku Sekolah Menegah Umum. Untuk itu mereka menyiapkan diri baik fisik maupun non fisik agar mereka terhindar dari kegagalan dalam Ujian Nasional. Jika mereka mengalami kegagalan dalam Ujian Nasional tersebut, maka mereka akan memikul beban moral seperti rasa malu, canggung, minder dan menghindari pergaulan yang pada akhirnya mereka akan kehilangan rasa percaya diri. Perasaan takut gagal tersebut dapat menjadi beban yang menyebabkan para siswa memiliki kecemasan dalam menghadapi Ujian Nasional. Kecemasan ini dapat mempengaruhi kondisi psikologis mereka yang akan mengganggu aktivitas mereka sebagai reaksi terhadap adanya sesuatu yang bersifat mengancam. Ketenangan dalam menghadapi Ujian Nasional mutlak diperlukan bagi peserta Ujian Nasional. Salah satu upaya agar mereka terhindar dari kecemasan yang berlebihan adalah dengan meningkatkan religiustas mereka. Peran agama sangat dibutuhkan dalam mengatasi kecemasan yang timbul saat akan menghadapi Ujian Nasional. Sebagaimana studi yang dilakukan oleh Azhar, et. al. (1994) terhadap 62 pasien psikiatri yang beragama Islam, yang mengalami gangguan kecemasan menyeluruh. Sebagian pasien menerima pengobatan secara konvensional yaitu diberi obat anti cemas dan psikoterapi suportif. Sebagian lagi mendapatkan terapi yang sama akan tetapi ditambah dengan psikoreligius yaitu seperti berdoa, berzikir, dan mengkaji ataupun membaca Al Quran. Hasil yang diperoleh membuktikan bahwa pasien yang menerima tambahan terapi psikoreligius menunjukkan perbaikan yang pesat atau bermakna dari gejala-gejala kecemasannya dibandingkan dengan pasien yang hanya mendapatkan terapi konvensional. (Dadang Hawari, 2003: 120). Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah adalah lembaga pendidikan Islam yang mengidentifikasikan diri sebagai lembaga pendidikan yang berbasis pondok pesantren modern. Sehingga madrasah ini mengkombinasikan sistem sekolah dengan pondok pesantren. Untuk itu para siswanya wajib bertempat tinggal di dalam asrama dengan maksud agar dapat membantu terbentuknya pengalaman kehidupan Islami. File Selengkapnya.....