Isikan Kata Kunci Untuk Memudahkan Pencarian

895. Hubungan Antara Tingkat Religiusitas Dengan Tingkat Kecemasan Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ujian Nasional merupakan sesuatu yang diwajibkan bagi para siswa sebagai persyaratan kelulusan. Bahkan hasil ujian dapat dijadikan bukti konkrit tentang kesanggupan bagi pelajar berpikir secara logis melalui proses yang memenuhi standar kompetensi yang ditentukan dan sesuai dengan prosedur akademik. Ujian Nasional seringkali ditanggapi serius oleh para siswa khususnya mereka yang duduk di bangku Sekolah Menegah Umum. Untuk itu mereka menyiapkan diri baik fisik maupun non fisik agar mereka terhindar dari kegagalan dalam Ujian Nasional. Jika mereka mengalami kegagalan dalam Ujian Nasional tersebut, maka mereka akan memikul beban moral seperti rasa malu, canggung, minder dan menghindari pergaulan yang pada akhirnya mereka akan kehilangan rasa percaya diri. Perasaan takut gagal tersebut dapat menjadi beban yang menyebabkan para siswa memiliki kecemasan dalam menghadapi Ujian Nasional. Kecemasan ini dapat mempengaruhi kondisi psikologis mereka yang akan mengganggu aktivitas mereka sebagai reaksi terhadap adanya sesuatu yang bersifat mengancam. Ketenangan dalam menghadapi Ujian Nasional mutlak diperlukan bagi peserta Ujian Nasional. Salah satu upaya agar mereka terhindar dari kecemasan yang berlebihan adalah dengan meningkatkan religiustas mereka. Peran agama sangat dibutuhkan dalam mengatasi kecemasan yang timbul saat akan menghadapi Ujian Nasional. Sebagaimana studi yang dilakukan oleh Azhar, et. al. (1994) terhadap 62 pasien psikiatri yang beragama Islam, yang mengalami gangguan kecemasan menyeluruh. Sebagian pasien menerima pengobatan secara konvensional yaitu diberi obat anti cemas dan psikoterapi suportif. Sebagian lagi mendapatkan terapi yang sama akan tetapi ditambah dengan psikoreligius yaitu seperti berdoa, berzikir, dan mengkaji ataupun membaca Al Quran. Hasil yang diperoleh membuktikan bahwa pasien yang menerima tambahan terapi psikoreligius menunjukkan perbaikan yang pesat atau bermakna dari gejala-gejala kecemasannya dibandingkan dengan pasien yang hanya mendapatkan terapi konvensional. (Dadang Hawari, 2003: 120). Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah adalah lembaga pendidikan Islam yang mengidentifikasikan diri sebagai lembaga pendidikan yang berbasis pondok pesantren modern. Sehingga madrasah ini mengkombinasikan sistem sekolah dengan pondok pesantren. Untuk itu para siswanya wajib bertempat tinggal di dalam asrama dengan maksud agar dapat membantu terbentuknya pengalaman kehidupan Islami. File Selengkapnya.....

894. Hubungan Antara Tingkat Perhatian Orang Tua Dengan Tingkat Pengamalan Agama Islam

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam pendidikan Islam orang tua mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai pendidik dan pembimbing kesiapan anak dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu orang tua harus mampu menjadi tauladan bagi putra-putrinya. Keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak sebelum anak itu mengenal lingkungan luar. Maka orang tua harus memberikan perhatian yang cukup kepada anaknya agar memiliki kesiapan dalam melaksanakan ajaran Islam. Orang tua yang terdiri dari Bapak dan Ibu, memiliki tanggung jawab yang besar dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Diantara tanggung jawab yang besar yang diwajibkan oleh Islam kepada para pendidik adalah tanggung jawab pendidikan fisik, agar anak-anak tumbuh seiring dengan baiknya pertumbuhan fisik, sehat badan, bergairah dan bersemangat. (Abdullah Nasih Ulwan, 1990: 1). Pendidikan fisik juga termasuk didalamnya pendidikan agama yang akan membentuk anak menjadi insan yang beragama, bertutur kata baik dan bertingkah laku dengan baik pula. Sikap keagamaan pada anak harus selalu diasah sejak usia dini agar anak dapat mengamalkan ajaran agama yang lebih mendalam nantinya dan hingga dewasa anak terbiasa untuk berpengetahuan agama dengan matang sebagai bekal pergaulannya bersama-sama dalam lingkungan masyarakat. Kebiasaan untuk mengenal dan menjalankan agama sejak kecil pada umumnya merupakan benteng yang kokoh bagi seseorang dalam menjaga moralitasnya ditengah-tengah pergaulan masyarakat. (Imam Bawani, 1990: 103). Kehangatan dan rasa aman merupakan dasar berkembangnya hubungan emosional yang baik antara orang tua dan anak. Selain itu juga hubungan yang penuh perhatian dan stimulasi sangat dibutuhkan oleh perkembangan yang sehat bagi anak. (Siti Rahayu Haditono, 1999: 98). Perhatian yang diberikan oleh orang tua terhadap anak sangat diperlukan karena orang tua adalah pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. (Zakiah Daradjat, 1986: 56). Orang tua juga adalah pendidik kodrati. Mereka pendidik bagi anak-anaknya karena secara kodrat Ibu dan Bapak diberikan anugerah oleh Allah berupa naluri orang tua. Dengan naluri itulah maka timbul rasa kasih sayang orang tua kepada anaknya, sehingga secara moral orang tua merasa terbeban tanggung jawab untuk memelihara, melindungi, mengawasi serta membimbingnya. (Jalaluddin, 2004: 222). Perhatian yang cukup dari orang tua terhadap anak-anaknya dapat menghasilkan sebuah perilaku yang positif karena segala tingkah lakuknya selalu mendapat arahan dari orang tua. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengamalan agama Islam siswa di SD Negeri Kaligondang diantaranya ialah: 1. faktor dari dalam (intern), yaitu kesadaran individu untuk menjalankan kewajibannya. 2. faktor dari luar (ekstern), yaitu faktor orang tua, faktor lingkungan, faktor teman. File Selengkapnya.....

893. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu persoalan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah persoalan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan meningkatkan mutu manajemen sekolah. Namun demikian, Indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota, menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang mencakup menggembirakan, namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. Berdasarkan masalah di atas, maka berbagai pihak mempertayakan apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita? Dan berbagai pengamat dan analisis, ada berbagai faktor yang menyebabkan mutu pendidikan kita mengelami peningkatan secara merata.1 Pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function atau input-output analisis yang tidak dilaksanakan secara konsekwen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendididjkan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga akan menghasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap input pendidikan seperti pelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, dan perbaikan sarana prasarana perbaikan lainnya dipenuhi, maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akan terjadi. Kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratissentralistik, sehingga meningkat sekolah sebagai penyelenggaraan pendidikan yang tergantung pada keputusan birokrasi-birokrasi. Kadang-kadang birokrasi itu sangat panjang dan kebijakannya tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Maka akses dari birokrasi panjang dan sentralisasi itu, sekolah menjadi tidak mandiri, kurangya kreatifitas dan motivasi. Ketiga, minimnya peranan masyarakat khususnya orang tua sisiwa dalam penyelenggaraan pendidikan, pratisipasi orang tua selama ini dengan sebatas pendukung dana, tapi tidak dilibatkan dalam proses pendidikan seperti mengambil keputusan, monitoring, evaluasi dan akuntabilitas, sehingga sekolah tidak memiliki beban dan tanggung jawab hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat/orang tua sebagai stake holder yang berkepentingan dengan pendidikan. Keempat, krisis kepemimpinan, dimana kepala sekolah yang cenderung tidak demokratis, sistem topdown policy baik dari kepala sekolah terhadap guru atau birokrasi diatas kepala sekolah terhadap sekolah.2 Munculnya paradigma Guru tentang manajemen berbasis sekolah yang bertumpu pada penciptaan iklim yang demokratisasi dan pemberian kepercayaan File Selengkapnya.....

892. Pengaruh Pembelajaran Aqidah Akhlak Terhadap Etika Siswa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Telah peneliti pahami bahwa para remaja berkembang secara integral, dalam arti fungsi–fungsi jiwanya saling mempengaruhi secara organik. Karenanya sepanjang perkembangannya membutuhkan bimbingan sebaik– baiknya dari orang yang lebih dewasa dan bertanggung jawab terhadap jiwa para remaja yang menurut kodratnya terbuka terhadap pengaruh dari luar. Namun tidak jarang para remaja mengambil jalan pintas untuk mengatasi kemelut batin yang mereka alami itu. Pelarian batin ini terkadang akan mengarah ke perbuatan negatif dan merusak, seperti kasus narkoba, tawuran antar pelajar, maupun tindak kriminal merupakan bagian dari kegagalan para remaja dalam menemukan jalan hidup yang dapat menentramkan gejolak batinnya. Sehingga jika tingkah laku yang diperlihatkan sesuai dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku tersebut dinilai baik dan diterima. Sebaliknya, jika tingkah laku tersebut tidak sesuai atau bertentangan dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku dinilai buruk dan ditolak (Jalaluddin,2005:276) Akibatnya peranan serta efektivitas Pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs sebagai landasan bagi pengembangan spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat dipertanyakan. Dengan demikian jika Pembelajaran Aqidah Akhlak yang dijadikan landasan pengembangan nilai spiritual dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakat akan lebih baik. 2 Juga sebagaimana diketahui, bahwa inti ajaran Islam meliputi: masalah keimanan (akidah), masalah keislaman (syari’ah), dan masalah ikhsan (akhlak) (Zuhairini,2004:48). Kemudian ruang lingkup akhlak meliputi tiga bidang yaitu akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak terhadap alam lingkungan. Dengan demikian, akhlak mencakup jasmani dan rohani, lahir dan batin, dunia dan akhirat, bersifat universal, berlaku sepanjang zaman dan mencakup hubungan dengan Allah, manusia dan alam lingkungan (Depag RI,1988:7). Demikian pula dengan pendidikan yang bijaksana dan mengetahui metodologi yang tepat bagi masing–masing individu (siswa), diharapkan para remaja dapat mencapai kesempurnaan. Selanjutnya peneliti tahu bahwa pada umumnya pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, karsa, rasa, cipta dan budinurani) dan jasmani (pancaindera serta ketrampilan-ketrampilan) (TIM Dosen Malang,1988:7). Disamping itu, pada hakekatnya pendidikan merupakan kebutuhan yang utama bagi manusia, yang dimulai sejak manusia lahir sampai meninggal dunia, bahkan manusia tidak akan menjadi manusia yang berkepribadian utama tanpa melalui pendidikan. Begitu pula dengan Pembelajaran Aqidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan tingkah laku siswa. Apalagi dalam pelaksanaan Pembelajaran File Selengkapnya.....

891. Pengaruh Model Pembelajaran Tuntas Terhadap Hasil Belajar Al Qur’an Hadits

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu di antara masalah besar dalam bidang pendidikan di Indonesia yang banyak diperbincangkan adalah rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata prestasi belajar, khususnya peserta didik MTs. Masalah lain adalah bahwa pendekatan dalam pembelajaran masih terlalu didominasi peran guru (teacher centered). Guru lebih banyak menempatkan peserta didik sebagai objek dan bukan sebagai subjek didik. Pendidikan kita kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis, belum memanfaatkan quantum learning sebagai salah satu paradigma menarik dalam pembelajaran, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual (Ahmadi,2004:50) Demikian juga proses pendidikan dalam sistem persekolahan kita, umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai peserta didik menguasai materi pembelajaran secara tuntas. Akibatnya, banyak peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolah. Tidak heran kalau mutu pendidikan secara nasional masih rendah. Penerapan Standar Isi yang berbasis pendekatan kompetensi sebagai upaya perbaikan kondisi pendidikan di tanah air ini memiliki beberapa alasan,di antaranya: potensi peserta didik berbeda-beda, dan potensi tersebut akan berkembang jika stimulusnya tepat; mutu hasil pendidikan yang masih rendah serta mengabaikan aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni & olah raga, serta kecakapan hidup (life skill); persaingan global yang memungkinkan hanya mereka yang mampu akan berhasil (Uzer,2003:155) 1. Persaingan kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) produk lembaga pendidikan; 2. persaingan yang terjadi pada lembaga pendidikan, sehingga perlu rumusan yang jelas mengenai standar kompetensi lulusan. Upaya-upaya dalam rangka perbaikan dan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi meliputi: kewenangan pengembangan, pendekatan pembelajaran, penataan isi/konten, serta model sosialisasi, lebih disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi serta era yang terjadi saat ini. Pendekatan pembelajaran diarahkan pada upaya mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengelola perolehan belajar (kompetensi) yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan demikian proses pembelajaran lebih mengacu kepada bagaimana peserta didik belajar dan bukan lagi pada apa yang dipelajari. Sesuai dengan cita-cita dari tujuan pendidikan nasional, guru perlu memiliki beberapa prinsip mengajar yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal peserta didik di dalam merancang strategi dan melaksanakan pembelajaran. Peningkatan potensi internal itu misalnya dengan menerapkan jenis-jenis strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara penuh, utuh dan kontekstual. File Selengkapnya.....

890. Pengaruh Metode Menghafal Terhadap Peningkatan Aspek Kognitif Siswa

ABSTRAKSI Manusia lahir ke dunia dibekali dengan kemampuan motorik yang berfungsi untuk mempermudah manusia beradaptasi dengan lingkungannya sebagai awal dari proses belajarnya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam kegiatan belajar-mengajar, metode yang tepat guna akan mepermudah peserta didik beradaptasi dengan pelajaran yang disampaikan sehingga mampu dipahaminya dengan mudah dan pada akhirnya tujuan pembelajaran dan pendidikan akan tercapai. Salah satu yang digunakan untuk menyampaikan pelajaran adalah metode menghafal. Metode ini diyakini sebagai sebuah bentuk asimilasi otak anak dengan lingkungan barunya (pelajaran atau teori baru yang belum dikenalnya). Dengan metode menghafal, peserta didik diharapkan mampu mengingat pelajaran atau teori baru kemudian mengolahnya ketingkat selanjutnya dalam aspek kognitif. Permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian ini ada dua macam, pertama tentang ada tidaknya Pengaruh Metode Menghafal Terhadap peningkatan aspek Kognitif Siswa di Madrasah Diniyah Sufla Ar-Rasyidien Poreh Lenteng Sumenep Tahun Pelajaran 2009-2010, dan kedua adalah besarnya Pengaruh Metode Menghafal Terhadap peningkatan aspek Kognitif Siswa di Madrasah Diniyah Sufla Ar-Rasyidien Poreh Lenteng Sumenep Tahun Pelajaran 2009-2010. Populasi penelitian ini adalah siswa Madrasah Diniyah sufla Ar-Rasyidien sebanyak 131 orang, sedangkan sampel penelitian sebesar 50% yakni 66 orang. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, angket, interview dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan dalah analisis statistik korelasi product moment Hasil penelitian meunujukkan adanya Pengaruh Metode Menghafal Terhadap peningkatan aspek Kognitif Siswa di Madrasah Diniyah Sufla Ar-Rasyidien Poreh Lenteng Sumenep Tahun Pelajaran 2009-2010 meskipun dengan intrepretasi agak rendah. File Selengkapnya.....

889. Manajemen Pendidikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasydien

ABSTRAK Perkembangan dunia pendidikan dewasa ini semakin membutuhkan manajemen atau pengelolaan yang baik. Demikian juga dalam hal pembelajaran baca tulis Al-Qur’an sangat diperlukan adanya penanganan yang serius baik dari segi ketepatan metode atau sistem, pendekatan atau perencanaan manajemen yang matang. Dalam meningkatkan kemampuan managerial dan kemampuan teknik masih mengalami berbagai hambatan yang mengakibatkan tidak terlaksana secara optimal. Berangkat dari berbagai permasalahan di atas, penulis berusaha mengadakan penelitian dengan judul Manajemen Pendidikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh Lenteng Sumenep. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui manajemen pendidikan yang dikembangkan (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh Lenteng-Sumenep, upaya-upaya yang dilakukan dalam mengembangkan (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin dan mengetahui faktor penghambat terhadap pelaksanaan pendidikan (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh. Penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian deskriptif kualitaif. Dan dalam pengumpulan datanya, penulis menggunakan metode observasi, interview dan dekomentasi. Sedangkan analisisnya, penulis mengunakan interprestasi, karena penelitian ini temasuk penelitian kualitatif deskriptif. Dari hasil penelitian ini dapat disampaikan bahwasanya manajemen pendidikan untuk pengembangan (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh sudah dilakukan tapi belum sempurna, dengan meningkatkan program pengajaran, santri, guru, keuangan sekolah, sarana dan prasarana dan hubungan masyarakat. Sedangkan hambatan-hambatan pelaksanaan manajemen Pendidikan (TPQ) Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh yang bersumber dari manusia dan non manusia. Dengan hasil demikian, maka disarankan agar pengurus TPQ Pondok Pesantren Ar-Rasyidin Poreh terus berusaha menyempurnakan pelaksanaan manajemen Pendidikannya. File Selengkapnya.....